PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 April 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara serentak meresmikan dimulainya pembangunan 13 proyek hilirisasi strategis nasional pada fase kedua. Upacara yang berlangsung di Cilacap, Jawa Tengah, menandai investasi total sebesar Rp116 triliun, menjadikan inisiatif ini salah satu program infrastruktur terbesar dalam sejarah pemerintahan Indonesia.
Program hilirisasi ini dipandang sebagai tonggak penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia serta memperkuat kemandirian ekonomi. Pemerintah menekankan bahwa pengolahan dalam negeri akan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Seluruh 13 proyek dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di bawah koordinasi Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani. Proyek-proyek tersebut tersebar di seluruh kepulauan, mencakup lima proyek di sektor energi, lima di sektor mineral, dan tiga di sektor pertanian.
- Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap, Jawa Tengah.
- Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai, Riau.
- Pembangunan tangki penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur.
- Pembangunan tangki penyimpanan BBM di Biak, Papua.
- Pembangunan tangki penyimpanan BBM di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
- Fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
- Fasilitas manufaktur stainless steel (berbasis nikel) di Morowali, Sulawesi Tengah.
- Fasilitas produksi slab baja karbon di Cilegon, Banten.
- Pengembangan ekosistem dan produksi aspal Buton di Karawang, Jawa Barat.
- Hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur.
- Pengolahan minyak sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara.
- Pengolahan pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah, Maluku.
- Fasilitas terpadu kelapa (MCT, tepung, arang aktif) di Maluku Tengah, Maluku.
Kelima proyek energi menitikberatkan pada peningkatan kapasitas kilang bahan bakar dan pembangunan infrastruktur penyimpanan BBM yang strategis di wilayah-wilayah timur Indonesia. Di sisi mineral, pembangunan fasilitas pengolahan nikel, baja, serta tembaga dan emas diharapkan dapat memanfaatkan cadangan logam dalam negeri untuk produk bernilai tinggi. Sektor pertanian difokuskan pada pengolahan kelapa sawit, pala, serta kelapa menjadi produk olahan makanan dan energi terbarukan.
“Ini adalah momen bersejarah yang membanggakan,” ujar Prabowo dalam sambutannya. “Groundbreaking hilirisasi tahap kedua mencakup 13 proyek strategis senilai kurang lebih Rp116 triliun, meliputi lima proyek di sektor energi, lima di sektor mineral, dan tiga di sektor pertanian. Ini akan menjadi pendorong utama kebangkitan ekonomi bangsa.”
Rosan Roeslani menambahkan, “Pengolahan aset negara menjadi katalisator transformasi ekonomi nasional. Kami berkomitmen menjadikan Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya, unggul dalam produksi, dan sejahtera dalam hasilnya.”
Penyebaran geografis proyek mencerminkan tekad pemerintah untuk memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata, dari ujung barat Sumatera hingga Papua. Dengan melibatkan BUMN seperti Pertamina, Krakatau Steel, MIND ID, dan PTPN, pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk menjamin efisiensi, integritas, dan keberlanjutan proyek.
Secara keseluruhan, 13 proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatkan ekspor produk olahan, menurunkan impor bahan baku, serta memperkuat posisi negara dalam rantai nilai global. Keberhasilan inisiatif akan sangat bergantung pada pelaksanaan tepat waktu, pengelolaan dana yang transparan, dan dukungan teknologi serta sumber daya manusia yang kompeten.
Dengan landasan kebijakan yang kuat dan investasi besar, pemerintah optimis bahwa fase kedua hilirisasi ini akan mempercepat transformasi industri nasional, menjadikan Indonesia lebih mandiri, berdaulat, dan kompetitif di kancah internasional.
