PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 Mei 2026 | Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei seharusnya tidak hanya berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi spanduk, pidato formal, dan unggahan media sosial bernuansa nasionalisme. Di tengah realitas sosial hari ini, peringatan Hari Kebangkitan Nasional justru layak dibaca sebagai alarm keras atas melemahnya solidaritas kebangsaan dan memudarnya semangat gotong royong di tengah masyarakat Indonesia.
Bangsa ini sedang menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, teknologi berkembang begitu cepat, konektivitas digital semakin luas, dan ruang publik semakin terbuka. Namun di sisi lain, masyarakat justru makin mudah terpecah, saling curiga, dan kehilangan empati sosial. Polarisasi politik, pertikaian identitas, budaya saling menghina di media sosial, hingga menguatnya individualisme menjadi gambaran nyata bahwa fondasi kebangsaan kita sedang mengalami erosi serius.
Padahal, sejarah berdirinya Indonesia tidak pernah dibangun di atas semangat individualisme. Indonesia lahir dari kerja kolektif, persatuan gagasan, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional sejatinya bukan hanya tentang mengenang lahirnya Budi Utomo pada 1908, tetapi tentang menghidupkan kembali kesadaran bersama bahwa bangsa ini hanya akan kuat apabila rakyatnya masih memiliki solidaritas sosial.
Kelahiran Budi Utomo menjadi titik penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Organisasi ini menandai perubahan besar dari perlawanan yang bersifat lokal dan kedaerahan menuju kesadaran kolektif sebagai bangsa. Dalam berbagai catatan sejarah, kebangkitan nasional lahir dari kesadaran kaum terpelajar pribumi bahwa penjajahan tidak bisa dilawan secara individual, melainkan melalui organisasi, pendidikan, dan persatuan sosial-politik.
Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru menjelaskan bahwa kebangkitan nasional merupakan proses tumbuhnya kesadaran nasional yang ditopang oleh solidaritas sosial antarkelompok masyarakat pribumi. Kesadaran ini menjadi fondasi lahirnya gerakan kebangsaan Indonesia modern. Artinya, sejak awal, nasionalisme Indonesia sesungguhnya dibangun di atas semangat kolektivitas.
Sayangnya, semangat itu kini mulai mengalami degradasi. Politik hari ini terlalu sering dipertontonkan sebagai arena perebutan kekuasaan semata, bukan ruang memperjuangkan kepentingan rakyat. Demokrasi dipenuhi pertikaian identitas, buzzer politik, propaganda digital, dan polarisasi yang menguras energi sosial masyarakat. Ruang digital yang semestinya menjadi medium edukasi publik justru kerap berubah menjadi arena kebencian dan disinformasi.
Dalam situasi seperti ini, gotong royong kehilangan makna substantifnya. Ia hanya hadir sebagai slogan seremonial, tetapi tidak benar-benar hidup dalam praktik kehidupan berbangsa. Padahal, para pendiri bangsa telah menempatkan gotong royong sebagai inti dari kepribadian Indonesia.
Presiden Prabowo dalam pidatonya menyampaikan tentang optimisme kebangsaan dan ekonomi berdikari. Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar dan investor sehingga setiap pengusaha yang menanamkan modalnya di Indonesia mendapatkan kenyamanan iklim dalam berusaha dengan kondusif, transparan, dan aman.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga memutus akses atau memblokir situs www.polymarket.com dan menelusuri seluruh akun media sosial yang terafiliasi. Hal ini dilakukan karena platform Polymarket mengandung unsur taruhan yang dikategorikan sebagai judi online.
Dalam rangka menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kebangsaan, perlu dilakukan upaya nyata seperti yang dilakukan oleh Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) dengan menyelenggarakan Seminar Green Pesantren bertema “Menyalakan Kebangkitan Nasional dengan Komitmen dan Aksi Nyata Green Pesantren”.
Kesimpulan, Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali solidaritas kebangsaan dan semangat gotong royong. Dengan demikian, Indonesia dapat kembali menjadi bangsa yang kuat dan berdiri di atas fondasi yang kokoh.
