PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menegaskan bahwa Tim Nasional Iran akan tetap berlaga di putaran final Piala Dunia 2026 yang seluruhnya digelar di Amerika Serikat. Pengumuman resmi tersebut disampaikan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino pada Kongres Dunia FIFA di Vancouver, Kanada, 30 April 2026, dan menepis spekulasi pemindahan lokasi pertandingan akibat ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Jadwal resmi tidak mengalami perubahan. Iran akan membuka kampanye grupnya pada 15 Juni melawan Selandia Baru di Stadion SoFi, Los Angeles. Enam hari kemudian, pada 21 Juni, skuad “Team Melli” kembali menjejak lapangan yang sama melawan Belgia. Babak penyisihan grup ditutup dengan laga melawan Mesir pada 26 Juni di Lumen Field, Seattle.
- 15 Juni 2026 – Iran vs Selandia Baru (Los Angeles, SoFi Stadium)
- 21 Juni 2026 – Iran vs Belgia (Los Angeles, SoFi Stadium)
- 26 Juni 2026 – Iran vs Mesir (Seattle, Lumen Field)
Meski agenda kompetisi sudah pasti, dinamika politik di luar lapangan semakin intens. Otoritas imigrasi Kanada menolak masuk delegasi pejabat sepak bola Iran, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang berencana menghadiri Kongres FIFA. Penolakan itu berlandaskan kebijakan Kanada yang melarang masuknya individu yang dicurigai memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
FIFA mengakui adanya situasi sensitif, namun menegaskan kedaulatan negara tuan rumah dalam mengatur kebijakan perbatasan. Sementara itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump menambah dimensi baru. Trump secara terbuka menyatakan dukungan bagi Iran untuk tetap berkompetisi di turnamen terbesar dunia, mengingatkan bahwa olahraga dapat menjadi jembatan di tengah perselisihan politik.
Penolakan masuk ke Kanada membuat delegasi Iran memilih kembali ke Tehran tanpa menunggu keputusan lebih lanjut. Menurut laporan media Iran, delegasi sempat ditahan selama tiga jam di Bandara Toronto dan diminta menjawab pertanyaan terkait keanggotaan IRGC. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke Turki, menghindari deportasi.
Situasi ini menyoroti bagaimana Piala Dunia 2026 menjadi arena pertarungan kepentingan geopolitik sekaligus kompetisi olahraga. Los Angeles, yang menjadi tuan rumah pertama pertandingan Iran, memiliki komunitas diaspora Iran terbesar di luar Timur Tengah, sehingga setiap pertandingan diprediksi akan menarik sorotan media internasional serta protes dan dukungan dari kalangan diaspora.
Di sisi lain, keputusan FIFA dan pernyataan Infantino menegaskan komitmen organisasi terhadap prinsip non‑diskriminasi dalam olahraga. “Iran akan bermain di Amerika Serikat,” ujar Infantino, menegaskan bahwa keputusan logistik tidak dapat dipengaruhi oleh tekanan politik eksternal.
Para pengamat menilai bahwa penampilan Tim Nasional Iran di Piala Dunia kali ini akan menjadi ujian besar bagi kemampuan sepak bola Iran untuk menavigasi tantangan di luar lapangan. Jika berhasil, Iran tidak hanya akan mengukir sejarah sportivitas, tetapi juga memberikan contoh bagaimana olahraga dapat bertahan di tengah ketegangan internasional yang tajam.
Ke depan, sorotan tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan, melainkan juga pada bagaimana FIFA, pemerintah Amerika Serikat, dan negara‑negara lain mengelola isu‑isu keamanan, kebebasan berpendapat, dan hak asasi manusia dalam konteks turnamen global. Semua mata kini menunggu apakah Tim Nasional Iran dapat mengatasi tekanan politik dan menampilkan performa terbaik di panggung dunia.
