Infantino Gagal Ciptakan Momen Damai di Kongres FIFA 2026: Palestina Tolak Jabat Tangan Israel

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Vancouver, Kanada – Kongres FIFA ke-76 yang digelar pada 30 April 2026 menjadi saksi kegagalan upaya perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam sebuah pidato di hadapan ratusan delegasi, Infantino mengundang perwakilan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) dan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) untuk naik ke panggung bersama dan melakukan jabat tangan simbolis. Namun, Presiden PFA Jibril Rajoub menolak keras ajakan tersebut, sementara Wakil Presiden IFA Basim Sheikh Suliman tetap berada di atas panggung.

Insiden tersebut memicu ketegangan yang terlihat jelas di antara kedua delegasi. Rajoub menolak untuk kembali ke panggung setelah selesai menyampaikan pidatonya, lalu beralih ke sisi panggung lain dimana ia mengeluarkan protes keras terhadap sikap lembek FIFA terhadap Israel. “Bisakah saya berjabat tangan dengan seseorang yang mewakili pemerintah fasis dan rasis, serta membela kebijakan yang menindas rakyat Palestina?” ujar Rajoub, mengutip pernyataannya kepada wartawan.

Baca juga:

Sementara itu, Infantino berusaha meredakan situasi dengan memberikan pelukan singkat kepada Suliman sebelum mengizinkannya turun panggung. Namun upaya tersebut tidak mengubah fakta bahwa momen foto bersama yang diharapkan tidak pernah terwujud. Tidak ada pernyataan resmi dari FIFA mengenai rencana tersebut, namun kegagalan ini menambah sorotan pada kebijakan organisasi dalam menanggapi konflik Israel‑Palestina.

Berikut rangkaian peristiwa yang terjadi pada malam itu:

  • Infantino menyampaikan pidato tentang pentingnya perdamaian dan kerja sama antar negara anggota FIFA.
  • Setelah pidato, ia mengundang Jibril Rajoub dan Basim Sheikh Suliman naik ke panggung bersamaan.
  • Basim Sheikh Suliman naik panggung, namun Rajoub menolak untuk kembali.
  • Rajoub terlibat diskusi emosional di sisi panggung, menolak jabat tangan, dan menuduh FIFA tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat Palestina.
  • Infantino mencoba mengurangi ketegangan dengan memberikan pelukan singkat kepada Suliman, lalu meninggalkan panggung sendiri.

Rajoub tidak hanya menolak jabat tangan, ia juga menuntut FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Israel atas dugaan pelanggaran regulasi anti‑diskriminasi FIFA. “Israel harus dikenai sanksi karena pelanggaran terhadap statuta FIFA dan hak asasi manusia,” tegasnya, menambahkan bahwa jika tidak ada tindakan, PFA siap membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Baca juga:

Pihak Israel, melalui sekretaris jenderal sementara IFA Yariv Teper, membantah bahwa jabat tangan tersebut sudah direncanakan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa kegagalan tersebut adalah “kesempatan yang terlewatkan” dan menekankan bahwa IFA tidak berurusan dengan politik, melainkan hanya dengan sepak bola.

Kegagalan ini menambah daftar kontroversi yang dihadapi FIFA dalam mempertahankan netralitas olahraga di tengah konflik geopolitik. Sementara FIFA telah membekukan Rusia sejak invasi Ukraina 2022, belum ada langkah tegas terhadap Israel terkait tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Gaza. Kritikus menilai bahwa sikap FIFA yang dianggap “lembek” memperburuk kepercayaan federasi konfederasi di wilayah Timur Tengah.

Infantino dalam pidatonya menekankan pentingnya “bekerja bersama untuk memberi harapan kepada anak‑anak” serta menyerukan semua pihak untuk bersatu demi masa depan sepak bola yang lebih baik. Namun, pernyataan tersebut terdengar kosong bagi delegasi Palestina yang merasa hak‑hak mereka terus diabaikan.

Baca juga:

Reaksi publik di media sosial pun beragam. Sebagian menilai Infantino berani mengambil langkah simbolis di tengah ketegangan, sementara yang lain mengkritik upaya tersebut sebagai aksi panggung yang tidak sensitif. Di Indonesia, banyak pengamat olahraga menilai bahwa FIFA perlu mengambil sikap yang lebih tegas dan konsisten dalam menegakkan nilai‑nilai anti‑diskriminasi serta keadilan dalam dunia sepak bola.

Secara keseluruhan, insiden di Kongres FIFA Vancouver menunjukkan betapa sulitnya mencari titik temu antara dua pihak yang berada dalam konflik berkepanjangan. Momen yang diharapkan menjadi simbol perdamaian justru mengungkapkan jurang pemisah yang masih lebar di antara federasi sepak bola Palestina dan Israel. Bagaimana FIFA akan menanggapi tekanan internasional selanjutnya menjadi pertanyaan penting menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *