PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Harga minyak mentah global kembali menembus level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Proyeksi terbaru Bank Dunia memperkirakan Brent dapat mencapai US$115 per barel jika konflik di Timur Tengah terus bereskalasi, sementara perkiraan konservatif menempatkan rata‑rata harga pada US$86 per barel pada akhir 2026. Lonjakan ini menimbulkan tekanan signifikan pada pasar bahan bakar minyak (BBM) domestik, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bank Dunia mengaitkan kenaikan energi sebesar 24 % pada 2026 dengan gangguan pada Selat Hormuz, jalur perdagangan yang menyalurkan sekitar 35 % minyak mentah dunia. Penurunan pasokan diperkirakan mengurangi produksi global hingga 10 juta barel per hari, memaksa harga naik secara tajam. Selain minyak, harga pupuk diprediksi melambung 31 %, dan logam dasar serta mulia naik masing‑masing 16 % dan 42 % karena investor beralih ke aset safe‑haven.
Di dalam negeri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui adanya kemungkinan penyesuaian harga BBM RON 92. Meski harga RON 92 belum berubah sejak Maret 2026, Bahlil menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi mengikuti dinamika pasar internasional. “Jika memang perlu penyesuaian, tidak ada masalah,” ujar Bahlil dalam pertemuan dengan pengelola SPBU pada 2 Mei 2026.
Data lapangan menunjukkan bahwa BBM nonsubsidi lainnya telah mengalami kenaikan tajam. Diesel Primeus naik dari Rp 14.610 menjadi Rp 30.890 per liter, dan BP Ultimate Diesel melambung hingga Rp 30.890 per liter, menandakan selisih harga yang semakin lebar antar merek. Harga RON 92 tetap pada Rp 12.390 per liter di sebagian besar SPBU, termasuk Pertamina dan VIVO, namun tekanan pada pasar diperkirakan akan meningkat seiring melambatnya pasokan minyak mentah.
- Brent: US$86 – US$115 per barel (proyeksi 2026)
- Harga RON 92: Rp 12.390 per liter (tidak berubah sejak Maret 2026)
- Diesel Primeus: Rp 30.890 per liter (kenaikan signifikan)
- BP Ultimate Diesel: Rp 30.890 per liter (kenaikan Rp 5.330)
Implikasi ekonomi domestik menjadi sorotan utama. Bank Dunia memperkirakan inflasi rata‑rata negara berkembang naik menjadi 5,1 % dan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 3,6 % pada 2026. Kenaikan harga energi memicu biaya produksi meningkat, menurunkan daya beli konsumen, serta menambah beban pada sektor transportasi dan logistik. Risiko kelaparan akut juga diperingatkan, dengan perkiraan tambahan 45 juta orang terancam kelaparan akibat kenaikan harga pangan yang dipicu oleh biaya produksi yang lebih tinggi.
Pengamat pasar menilai bahwa kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga BBM akan menjadi faktor penentu. Jika harga minyak mentah terus berada di atas US$100 per barel, tekanan pada harga RON 92 dan diesel non‑subsidi dapat memaksa pemerintah untuk menyesuaikan tarif, meskipun kebijakan subsidi tetap menjadi prioritas untuk melindungi konsumen berpendapatan rendah.
Secara keseluruhan, kombinasi antara geopolitik Timur Tengah, proyeksi Bank Dunia, dan sinyal kebijakan dalam negeri menandai fase kritis bagi pasar energi Indonesia. Pemantauan ketat terhadap perkembangan konflik, fluktuasi harga internasional, serta respons kebijakan akan menentukan sejauh mana dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi dapat diminimalisir.
Dengan harga minyak menembus level tertinggi sejak 2022, Indonesia berada pada persimpangan antara menjaga stabilitas BBM dan mengatasi beban inflasi yang meningkat. Pemerintah, pelaku industri, dan konsumen harus bersiap menghadapi volatilitas yang berkelanjutan.
