Minyak Dunia Merosot Tajam Setelah Selat Hormuz Dibuka Kembali: Dampak Harga, Pasar, dan Kebijakan

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 18 April 2026 | Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada akhir pekan setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz—jalur penyeluran utama minyak dari Teluk Arab ke Samudra Hindia—kembali dibuka penuh bagi kapal dagang. Pengumuman tersebut disampaikan pada Jumat, 17 April 2026 oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan keputusan itu selaras dengan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Pembukaan kembali jalur strategis ini menghilangkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak, sehingga memicu penurunan harga yang mencapai dua digit.

Data harga menunjukkan penurunan paling tajam pada dua benchmark utama. West Texas Intermediate (WTI) turun US$9,47 atau sekitar 10,29 persen, mencatat harga US$84,95 per barel (sekitar Rp1.456.043). Brent Crude melemah US$8,52 atau 8,52 persen, berakhir pada US$90,87 per barel (sekitar Rp1.557.511). Beberapa laporan lain mencatat harga WTI pada US$84,14 dan Brent pada US$90,63, menegaskan rentang penurunan yang konsisten di pasar internasional.

Baca juga:

Penurunan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menular ke pasar saham global. Indeks S&P 500 menguat 1,2 persen, Dow Jones Industrial Average melambung 1,8 persen hingga menutup pada 49.447 poin, dan Nasdaq Composite naik 1,5 persen. Sentimen optimis muncul karena para investor menilai bahwa berkurangnya ketegangan di Timur Tengah dapat menurunkan risiko inflasi energi serta menstabilkan kondisi ekonomi global.

Namun, respons kebijakan di dalam negeri tidak seragam. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan melalui platform media sosialnya bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan damai yang komprehensif. Trump menyebut blokade itu sebagai “transaksi” yang akan berakhir hanya ketika semua persyaratan terpenuhi. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Selat Hormuz dapat ditutup kembali bila blokade Amerika Serikat tidak dihentikan. Ghalibaf menekankan bahwa status operasional selat ditentukan di lapangan, bukan melalui pernyataan di media sosial.

Baca juga:

Di Indonesia, reaksi pasar energi domestik memperlihatkan dinamika yang menarik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan kenaikan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sebagai penyesuaian terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Juru bicara ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar akan tetap dijaga stabil hingga akhir 2026, demi melindungi daya beli masyarakat. Meskipun harga minyak mentah global turun, kebijakan domestik tetap mempertimbangkan faktor nilai tukar dan tekanan inflasi regional.

Secara geopolitik, pembukaan Selat Hormuz menandai langkah penting dalam meredakan ketegangan antara Iran dan sekutu Barat. Gencatan senjata antara Lebanon dan Israel menjadi katalis utama, memungkinkan otoritas pelabuhan dan maritim Iran mengkoordinasikan rute pelayaran komersial yang telah ditetapkan. Namun, pernyataan kontradiktif dari Washington dan Teheran menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya teratasi. Investor tetap memantau perkembangan diplomatik, termasuk kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dan negosiasi terkait program nuklir Iran.

Baca juga:

Secara makroekonomi, penurunan harga minyak dapat memberikan dorongan pada pertumbuhan ekonomi global dengan menurunkan biaya produksi dan transportasi. Namun, negara-negara produsen minyak yang mengandalkan pendapatan ekspor—seperti Saudi Arabia, Kuwait, dan Uni Emirat Arab—menghadapi tekanan fiskal akibat penurunan pendapatan. Pemerintah-pemerintah tersebut diperkirakan akan menyesuaikan anggaran atau mencari diversifikasi ekonomi untuk mengimbangi dampak penurunan harga komoditas utama.

Kesimpulannya, pembukaan kembali Selat Hormuz telah memicu penurunan tajam harga minyak dunia, menggerakkan pasar saham ke arah positif, dan menimbulkan reaksi kebijakan yang beragam di tingkat internasional maupun domestik. Meskipun pasar tampak lega, ketidakpastian geopolitik masih menyisakan risiko potensial. Pengamat memperkirakan bahwa stabilitas harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh evolusi gencatan senjata, kebijakan blokade Amerika Serikat, serta kemampuan Iran untuk mempertahankan alur perdagangan laut tanpa gangguan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *