Trump Tolak Proposal Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Tekankan Blokade Hingga Kesepakatan Nuklir

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 04 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap tawaran Iran yang mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada Sabtu, 2 Mei 2026, Trump menerima draf kesepakatan diplomatik dari perwakilan Tehran di Florida, namun menolak untuk mengesahkannya tanpa jaminan bahwa Iran tidak akan melanjutkan program nuklirnya.

Menurut keterangan yang disampaikan Trump kepada wartawan sebelum berangkat ke Miami, ia masih menunggu teks lengkap dari proposal tersebut. “Mereka telah memberi saya konsep kesepakatan, dan kini mereka akan menyerahkan draf redaksinya,” ujar Trump, mengutip pernyataan Reuters. Meski ada kemajuan dalam jalur komunikasi, Trump mengingatkan bahwa Amerika Serikat tetap membuka opsi serangan militer jika Tehran melakukan tindakan provokatif atau melanggar ketentuan yang diusulkan.

Baca juga:

Proposal Iran berisi 14 poin utama, di antaranya kesediaan membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan mencabut blokade angkatan laut AS, dengan syarat pembahasan program nuklir dipindahkan ke tahap akhir negosiasi. Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, telah ditutup selama lebih dari dua bulan akibat aksi blokade Iran, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar di pasar global.

  • Pengangkatan blokade laut AS.
  • Pembukaan kembali jalur minyak di Selat Hormuz.
  • Penundaan pembahasan isu nuklir ke fase akhir.
  • Ganti rugi atas kerusakan akibat perang.

Reaksi Trump di media sosial menunjukkan skeptisisme yang tinggi. Di platform Truth Social, ia menulis bahwa Iran belum “membayar harga yang setimpal” atas gangguan keamanan selama hampir lima dekade. Ia menambahkan, “Jika mereka berperilaku buruk atau melakukan sesuatu yang fatal, kita akan lihat nanti. Namun, kemungkinan serangan militer tetap ada.”

Di sisi lain, pada Senin, 4 Mei 2026, Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan memulai operasi bantuan kemanusiaan bagi kapal-kapal netral yang terjebak di Selat Hormuz. Ia menyebutkan bahwa operasi tersebut akan menuntun kapal-kapal tersebut keluar dari zona terbatas dengan aman, tanpa mengungkap detail teknis pelaksanaannya. Pentagon menolak memberikan komentar lebih lanjut, sementara Gedung Putih menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap operasi AS akan “ditindak secara tegas”.

Baca juga:

Pengumuman bantuan ini memicu penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah turun 2 persen menjadi sekitar US$110 per barel, dan minyak Brent turun menjadi US$108 per barel. Penurunan harga tersebut mencerminkan harapan pasar bahwa pembukaan Selat Hormuz dapat mengurangi tekanan pada pasokan energi global.

Namun, Iran menolak bahwa proposalnya telah diterima secara penuh. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Tehran masih menunggu respons resmi dari Washington, yang saat ini tengah ditinjau melalui perantara Pakistan. Iran menegaskan bahwa pembahasan nuklir tidak akan dilanjutkan sampai blokade di Teluk dicabut.

Di dalam negeri, kebijakan Trump mendapat sorotan tajam dari Partai Republik. Banyak anggota parlemen mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akibat blokade dapat menurunkan dukungan pemilih menjelang pemilu paruh waktu pada November 2026. Sementara itu, analis politik menilai bahwa sikap keras Trump terhadap Iran dapat memperkuat posisi politiknya di kalangan konservatif, namun berisiko memperpanjang konflik di kawasan Teluk.

Baca juga:

Sejumlah sumber militer mengungkapkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah menyiapkan rencana serangan udara singkat dan kuat untuk memecah kebuntuan diplomatik bila Iran menolak membuka Selat Hormuz secara permanen. Namun, Trump menyatakan bahwa blokade laut masih menjadi alat tawar-menawar yang lebih efektif daripada pengeboman, dan menambahkan, “Kami merasa seperti bajak laut, tetapi kami tidak sedang bermain-main.”

Situasi geopolitik di wilayah ini tetap cair. Sementara Iran menuntut pencabutan blokade sebagai prasyarat utama, AS menolak mencabutnya sebelum Tehran menyerahkan jaminan konkret mengenai program nuklirnya. Kedua belah pihak tampaknya masih berada pada posisi stalemate, dengan kemungkinan eskalasi militer yang tetap mengancam stabilitas energi global.

Kesimpulannya, penolakan Trump terhadap proposal Iran membuka kembali Selat Hormuz menandai fase baru dalam dinamika konflik Timur Tengah. Kebijakan blokade, ancaman militer, dan upaya bantuan kemanusiaan menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar energi, politik domestik AS, serta hubungan diplomatik antara Washington dan Tehran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *