PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Mei 2026 | Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan April 2026 dengan angka inflasi bulanan sebesar 0,13 % dibandingkan Maret 2026. Indeks IHK naik dari 110,95 pada Maret menjadi 111,09 pada April, menandakan tekanan harga masih berada pada level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi tahun‑kalender (Desember 2025‑April 2026) tercatat 1,06 %, menunjukkan pergerakan harga secara tahunan masih terjaga.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulan ini. Kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 0,99 % dan memberikan andil 0,12 % terhadap total inflasi. Komoditas yang paling berpengaruh adalah tarif angkutan udara domestik (andil 0,11 %) serta bensin (andil 0,02 %).
Selain transportasi, beberapa komoditas pangan juga memberikan kontribusi positif pada kenaikan harga, antara lain minyak goreng (andil 0,05 %), tomat (andil 0,03 %), serta beras dan nasi dengan lauk (masing‑masing andil 0,02 %). Namun, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas lain.
Kelompok pengeluaran yang menurunkan inflasi meliputi perawatan pribadi dan jasa lainnya (inflasi –0,99 %, andil –0,07 %) serta makanan, minuman, dan tembakau (mamintem) yang turun –0,20 % (andil –0,06 %). Deflasi paling signifikan terjadi pada komoditas emas perhiasan, yang mencatat penurunan harga sebesar 0,09 % pada bulan April setelah mengalami reli kenaikan selama 30 bulan.
Berikut rangkuman komponen utama yang memengaruhi inflasi April 2026:
- Komponen inti: inflasi 0,23 % (andil 0,15 %).
- Harga yang diatur pemerintah: inflasi 0,69 % (andil 0,13 %).
- Harga bergejolak: deflasi 0,88 % (andil –0,15 %).
Komoditas yang mendominasi komponen harga yang diatur pemerintah meliputi tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, bensin, dan sigaret kretek mesin (SKM). Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi pada harga bergejolak antara lain daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.
Secara geografis, pada April 2026, 30 provinsi mencatat inflasi positif, sementara 8 provinsi mengalami deflasi. Papua Barat menorehkan inflasi tertinggi sebesar 2,0 %, sedangkan Maluku mengalami deflasi terdalam sebesar –0,17 %.
Penurunan harga emas perhiasan menjadi sorotan tersendiri karena sebelumnya harga tersebut telah mengalami reli panjang selama 30 bulan. Penurunan ini memberikan ruang lega bagi konsumen yang mengandalkan emas sebagai investasi jangka panjang maupun sebagai bahan baku industri perhiasan.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan di sektor transportasi dan beberapa bahan pangan, tekanan inflasi pada April 2026 tetap terkendali berkat penurunan harga di sektor perawatan pribadi, makanan dan minuman, serta emas perhiasan. Kebijakan pemerintah yang memonitor harga komoditas penting serta stabilitas nilai tukar rupiah turut berperan dalam menjaga inflasi pada level rendah.
Para analis ekonomi memperkirakan bahwa jika tren penurunan harga emas perhiasan berlanjut, serta tidak ada guncangan eksternal signifikan pada pasar energi, inflasi bulanan dapat tetap berada di kisaran di bawah 0,2 % dalam beberapa bulan ke depan. Namun, peningkatan tarif udara dan harga bahan bakar tetap menjadi faktor risiko yang perlu dipantau secara intensif.
Dengan inflasi yang masih berada pada level terendah dan harga emas yang kembali turun, konsumen di seluruh Indonesia dapat menikmati daya beli yang relatif lebih kuat pada awal pertengahan tahun 2026.
