PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Barito Pacific kembali mencuri perhatian pasar modal Indonesia setelah mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 803 persen pada kuartal I 2026. Peningkatan tersebut dipicu oleh kombinasi margin kilang minyak yang sangat kuat di Singapura serta integrasi penuh jaringan SPBU Esso yang baru diakuisisi dari ExxonMobil.
Direktur Utama perusahaan, Agus Pangestu, menegaskan bahwa strategi vertikalisasi rantai nilai energi menjadi kunci utama pencapaian ini. “Optimalisasi operasi di Singapura, terutama melalui tingginya crack spread regional, memungkinkan kami menghasilkan margin kilang yang luar biasa,” ujarnya dalam konferensi pers pada 5 Mei 2026.
Berikut rangkuman kinerja keuangan Barito Pacific pada 3M26:
| Item | Nilai (USD) | YoY |
|---|---|---|
| Pendapatan bersih konsolidasi | 2,57 miliar | +232% |
| EBITDA | 567 juta | +288% |
| Laba bersih setelah pajak | 271 juta | +803% |
Margin kilang yang tinggi berasal dari anak usaha utama, Chandra Asri Group, yang mengoperasikan Kilang Minyak Aster di Singapura sejak akuisisi pada April 2025. Kilang tersebut berhasil memaksimalkan bauran produk serta mengendalikan biaya pengadaan bahan baku, sehingga menghasilkan crack spread yang mengungguli rata‑rata regional.
Integrasi jaringan SPBU Esso di Singapura juga memberikan kontribusi signifikan. Akuisisi yang selesai pada Januari 2026 telah dikonsolidasikan penuh dalam laporan keuangan, menambah jaringan ritel bahan bakar serta membuka peluang sinergi penjualan produk petrokimia secara langsung kepada konsumen akhir.
Reaksi Pasar Saham
Seiring pengumuman hasil keuangan, saham Barito Pacific (BRPT) melonjak 24,66 persen pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, menembus level tertinggi Rp 2.300 per lembar. Volume perdagangan mencapai lebih dari 6,1 juta saham, menandakan antusiasme investor yang kuat terhadap prospek pertumbuhan berkelanjutan perusahaan.
Selain Barito Pacific, saham perusahaan terkait seperti PT Petrosea (PTRO) dan PT Chandra Asri Pacific (TPIA) juga mencatat kenaikan tajam, mencerminkan sentimen positif terhadap sektor energi dan petrokimia Indonesia secara keseluruhan.
Prospek ke Depan
Manajemen Barito Pacific tetap optimis meskipun mengakui adanya ketidakpastian di pasar global, terutama terkait fluktuasi harga minyak mentah. Fokus ke depan meliputi penguatan margin kilang, pemanfaatan sinergi jaringan SPBU, serta ekspansi ke energi terbarukan, termasuk proyek panas bumi Wayang Windu yang kini telah melampaui kapasitas 1 gigawatt.
Dengan total aset mencapai USD 17,62 miliar dan rasio utang bersih terhadap ekuitas yang tetap terkendali pada 0,77 kali, BarBarito Pacific berada pada posisi likuiditas yang kuat untuk menghadapi tantangan ekonomi global.
Secara keseluruhan, kombinasi margin kilang yang tinggi, integrasi vertikal yang berhasil, serta kebijakan operasional yang disiplin menempatkan Barito Pacific pada lintasan pertumbuhan yang menjanjikan untuk sisa tahun 2026 dan seterusnya.
