Krisis Energi Global: Indonesia Andalkan Batu Bara, Sementara Dunia Beralih ke Minyak Rusia dan Ketegangan di Selat Hormuz

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 26 April 2026 | Ketegangan geopolitik, fluktuasi harga, dan gangguan rantai pasok menempatkan dunia pada ambang krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah situasi ini, Indonesia menegaskan posisi sebagai negara yang relatif tangguh berkat dominasi batu bara, sementara sejumlah negara besar tetap mengamankan pasokan minyak Rusia untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Menurut laporan J.P. Morgan Asset Management, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam hal ketahanan energi, dengan faktor isolasi energi mencapai 77 persen. Kekuatan utama berasal dari produksi batu bara domestik yang menyumbang hampir setengah konsumsi energi akhir nasional, diikuti gas bumi (22 persen) dan energi terbarukan (7 persen). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa pencapaian ini merupakan hasil koordinasi lintas kementerian serta kebijakan jangka panjang yang menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya domestik dan percepatan transisi energi.

Baca juga:

Sementara Indonesia memperkuat ketahanan energi melalui sumber domestik, negara‑negara lain menanggapi krisis dengan strategi berbeda. India dan China, dua konsumen energi terbesar di dunia, memanfaatkan harga kompetitif minyak Rusia untuk menekan biaya impor dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Turki, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan juga menjalin kerja sama energi dengan Rusia, menyoroti bahwa kebutuhan praktis seringkali mengalahkan tekanan sanksi internasional.

  • India – pembeli minyak Rusia dalam volume sangat besar untuk menstabilkan harga energi domestik.
  • China – mengandalkan pasokan minyak dan proyek energi jangka panjang dengan Rusia.
  • Turki – memanfaatkan posisi geografis strategis untuk diversifikasi pasokan energi.
  • Indonesia – menjajaki kerjasama energi dengan Rusia meski fokus pada batu bara domestik.
  • Malaysia, Filipina, Korea Selatan – masing‑masing mencari alternatif pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada jalur tradisional.

Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz menambah dimensi baru pada krisis energi. Daniel Yergin, Wakil Ketua S&P Global, memperingatkan bahwa gangguan di selat tersebut dapat menjadi gangguan energi terbesar yang pernah terjadi, memengaruhi tidak hanya minyak tetapi juga gas alam, pupuk, helium, dan aluminium. Asia, yang mengimpor sekitar 80 persen minyak dan 90 persen LNG melalui jalur ini, diprediksi akan merasakan dampak paling berat.

Baca juga:

Perang antara Iran dan Amerika Serikat semakin memperparah ketidakpastian. Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa konflik tersebut mempercepat peralihan dunia menuju energi bersih, termasuk tenaga nuklir dan energi terbarukan, sekaligus menurunkan permintaan minyak secara permanen. Menurutnya, negara‑negara yang terdampak akan meninjau kembali strategi energi mereka, mengurangi risiko geopolitik, dan meningkatkan investasi pada sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Sementara itu, Amerika Serikat mengirimkan kapal tanker ke Jepang untuk mengamankan pasokan minyak di tengah krisis yang dipicu oleh konflik Iran. Langkah ini mencerminkan upaya negara‑negara besar untuk menjaga kestabilan pasar energi global meski dihadapkan pada risiko geopolitik yang meningkat.

Baca juga:

Secara keseluruhan, dinamika energi global saat ini ditandai oleh tiga tren utama: (1) diversifikasi sumber energi oleh negara‑negara berkembang, (2) peningkatan ketergantungan pada minyak Rusia sebagai alternatif biaya, dan (3) percepatan transisi menuju energi bersih sebagai respons terhadap ketidakstabilan geopolitik. Indonesia, dengan batu bara sebagai tulang punggung, berada pada posisi yang relatif aman, namun tetap harus memperkuat kebijakan transisi energi untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang.

Dengan tantangan yang terus berkembang, koordinasi kebijakan antar‑negara, inovasi teknologi, dan investasi pada energi terbarukan menjadi kunci utama dalam mengatasi krisis energi yang melanda dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *