Tragedi Pilu Nanda di Semarang: Cucu Meninggal Kecelakaan, Rumah Hancur Longsor Semarang

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Semarang, 5 Mei 2026 – Warga Kelurahan Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, mengalami duka berlapis. Nanda Tiarawati (25) kehilangan cucu satu-satunya, RD (5 tahun), dalam kecelakaan di jalur Silayur, Ngaliyan pada 2 Mei. Tak lama setelah pemakaman, rumah milik neneknya, Markonah (60), runtuh sebagian akibat longsor yang melanda wilayah tersebut.

Pada Selasa pagi, Nanda bersama neneknya Markonah duduk di depan rumah tetangga yang juga terdampak, menanti kedatangan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng. Wali Kota memberikan tisu dan menguatkan mereka, sambil menegaskan bahwa pemulihan akan segera difasilitasi oleh pemerintah kota.

Baca juga:

Markonah mengaku sangat terpukul. “Saya baru saja kehilangan cucu, kemudian rumah saya hancur. Rasanya seolah hidup saya menumpuk satu tragedi demi satu tragedi,” ujarnya dengan mata berkaca‑kaca. Karena rumahnya hampir roboh, ia sementara tinggal di rumah adik, Sri Wahyuni (42), yang berada di sebelah rumahnya.

Nanda, yang bersama suami dan anaknya menempati rumah Markonah sejak 2019, tidak menyangka harus kehilangan tempat tinggal sekaligus menanggung duka anaknya. “Kami berangkat jam sepuluh pagi untuk mengantar anak ke restoran, tetapi pada jam setengah sebelas terjadi kecelakaan,” katanya. Ia menambahkan bahwa ia mengetahui longsor melalui media sosial dan segera kembali ke rumah untuk memastikan keselamatan keluarga.

Ketua RT 5 RW 1 Kalialang Lama, Sabar Wahyudi, menjelaskan bahwa sejak 1 Mei hingga 4 Mei, zona tersebut mengalami serangkaian pergerakan tanah setelah hujan deras usai isya. Selama empat hari, tiga rumah roboh total menimpa sebelas jiwa. Luas area longsor diperkirakan antara 2.000 hingga 3.000 meter persegi.

Baca juga:

Menurut Sabar, pergerakan tanah terjadi secara bergantian pada malam hari, biasanya setelah hujan deras berhenti. “Jika pada 1 Mei terjadi pada pukul 19.00, kejadian serupa muncul pada malam berikutnya,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya penanggulangan cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Pihak kepolisian setempat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyiapkan bantuan darurat, termasuk penampungan sementara, paket sembako, dan rencana pembangunan rumah susun untuk korban. Wali Kota Agustina berjanji akan mengajukan alokasi dana khusus agar keluarga Markonah dan Nanda dapat memperoleh rumah baru secepatnya.

Di tengah keprihatinan warga, relawan lokal dan organisasi kemanusiaan turut membantu membersihkan puing serta menyediakan kebutuhan pokok. Namun, tantangan utama tetap pada penyediaan tempat tinggal yang layak dan pemulihan mental bagi korban yang mengalami trauma ganda.

Baca juga:

Kasus ini menambah catatan bencana alam yang melanda wilayah Semarang akhir-akhir ini, memperlihatkan kerentanan permukiman yang dibangun di zona rawan longsor. Pemerintah kota diharapkan memperketat regulasi perencanaan ruang serta meningkatkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko serupa di masa depan.

Dengan dukungan pemerintah, lembaga sosial, dan kepedulian masyarakat, diharapkan keluarga Nanda dapat kembali bangkit dari duka yang mendalam. Upaya rehabilitasi tidak hanya mencakup bangunan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis agar mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan harapan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *