PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 17 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan kembali bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2027. Pernyataan tersebut merupakan kelanjutan arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan setelah kunjungan resmi ke Rusia dan Prancis, di mana kedua negara menjadi mitra strategis dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Dalam keterangannya pada hari Jumat, Bahlil menekankan bahwa kebijakan ini sejalan dengan kondisi pasokan energi nasional yang tetap terjaga. “Kami sudah sepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun 2027. Insya Allah stok kita di atas standar minimum, baik solar, bensin, maupun LPG,” ujar Bahlil.
Stabilitas harga BBM subsidi menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama kelompok rentan yang paling terdampak oleh fluktuasi harga energi global. Dari sisi fiskal, pemerintah menilai kebijakan ini masih aman karena harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada di bawah asumsi anggaran. Hingga kini, rata‑rata harga ICP Januari‑Juni 2026 tidak melampaui US$77 per barel, sementara batas aman yang ditetapkan pemerintah adalah US$100 per barel. “Dengan harga ICP saat ini, kita hanya perlu menanggung selisih US$7 per barel,” jelas Bahlil.
Berikut beberapa data penting yang mendukung kebijakan tersebut:
- Impor BBM diperkirakan masih diperlukan sekitar 1 juta barel per hari.
- Konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.
- Produksi dalam negeri masih berada pada kisaran 600‑610 ribu barel per hari.
Untuk menutup kesenjangan antara produksi dan konsumsi, pemerintah terus membuka peluang kerja sama energi dengan Rusia dan Prancis, tidak hanya pada pasokan minyak mentah tetapi juga pada pengembangan infrastruktur penunjang seperti kilang dan fasilitas penyimpanan. Bahlil menyampaikan bahwa beberapa investasi dari Rusia telah siap masuk, namun finalisasi masih menunggu satu hingga dua putaran pembicaraan lanjutan.
“Ada beberapa investasi mereka yang siap untuk masuk, terutama di bidang kilang dan storage. Kami akan menunggu finalisasi dalam 1‑2 putaran pembicaraan selanjutnya,” kata Bahlil.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi jangka panjang serta mengurangi ketergantungan impor. Di samping itu, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil tanpa menambah beban fiskal, mengingat ruang fiskal masih cukup kuat berkat harga minyak mentah yang terkendali.
Pengumuman ini juga mendapat sambutan positif dari pelaku industri dan asosiasi konsumen. Menurut mereka, kepastian harga selama lebih dari satu tahun ke depan memberikan ruang perencanaan yang lebih baik bagi usaha kecil, menengah, dan rumah tangga.
Namun, Bahlil juga mengingatkan bahwa kebijakan ini tetap bergantung pada dinamika harga ICP. “Doain, ini kan tergantung pada harga ICP. Kalau sampai US$100, BBM masih aman. Sampai saat ini, ICP berada di US$77, jadi kita masih dalam zona aman,” tegasnya.
Dengan kebijakan harga BBM subsidi yang tidak naik hingga akhir 2027, pemerintah berharap dapat menstabilkan ekonomi domestik, mengurangi tekanan inflasi, dan memberikan rasa aman bagi konsumen dalam menghadapi ketidakpastian pasar energi global. Kebijakan ini juga diharapkan meningkatkan kepercayaan publik terhadap langkah-langkah strategis pemerintah dalam mengelola sektor energi nasional.
