PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 27 April 2026 | Ketika musim panen tiba, warga Badui di Kabupaten Lebak, Banten, melakukan pembersihan lahan huma untuk mempersiapkan penanaman berikutnya. Aktivitas tersebut tak terlepas dari risiko alami, termasuk kehadiran ular tanah berbisa yang bersembunyi di antara dedaunan kering dan tumpukan kayu bakar. Pada hari Minggu, 26 April 2026, dua warga Badui—Arsunah (25 tahun) dari Ciranji Pasir dan Rani (30 tahun) dari Gerendeng, Desa Kanekes—masuk dalam bahaya setelah keduanya digigit ular berbisa.
Segera setelah insiden terjadi, relawan Sahabat Relawan Indonesia (SRI) yang berada di lapangan melaporkan kejadian kepada Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat. Tim relawan yang terlatih langsung melakukan pertolongan pertama, menstabilkan korban, dan menyiapkan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. Karena lokasi terpencil dan keterbatasan transportasi, proses evakuasi melibatkan kolaborasi dengan puskesmas setempat serta penggunaan kendaraan relawan yang dilengkapi peralatan medis dasar.
Berikut adalah langkah‑langkah yang diambil oleh relawan SRI dalam penanganan kasus gigitan ular ini:
- Memberikan pertolongan pertama dengan tekanan bandage dan penetapan posisi korban untuk memperlambat penyebaran racun.
- Menghubungi puskesmas terdekat untuk memastikan ketersediaan antivenom serta tenaga medis yang siap menerima rujukan.
- Menyiapkan dokumen Kartu Tanda Mahasiswa (SKTM) bagi korban yang tidak memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau PBI, memastikan mereka dapat mengakses layanan rumah sakit tanpa biaya.
- Mengantar Arsunah dan Rani ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung dengan bantuan sopir relawan yang familiar dengan jalur pegunungan Lebak.
- Menemani korban selama proses masuk rumah sakit, memastikan komunikasi antara keluarga dan tim medis berjalan lancar.
Setelah tiba di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, kedua korban langsung masuk ke ruang gawat darurat. Tim medis rumah sakit melakukan pemberian antivenom, monitoring tanda vital, serta penanganan luka gigitan. Berkat respons cepat relawan SRI, kondisi Arsunah dan Rani tetap stabil dan tidak mengalami komplikasi kritis.
Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, menyatakan bahwa sejak Januari hingga 25 April 2026, timnya telah mencatat 24 kasus warga Badui yang mengalami gigitan ular berbisa. “Selama periode tersebut, tidak ada satu pun korban jiwa karena kami selalu menyalurkan korban ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung atau RSUD Banten lainnya dengan cepat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa selain rujukan medis, relawan SRI juga mengelola klinik keliling di Cijahe, Terminal Binong, dan Terminal Ciboleger, yang melayani pemeriksaan gratis bagi masyarakat Badui.
Sekretaris Desa Kanekes, Leuwidamar, mengapresiasi keberadaan relawan SRI. “Kehadiran mereka sangat membantu, terutama bagi warga yang tidak memiliki asuransi kesehatan. Relawan tidak hanya memberikan pertolongan medis, tetapi juga membantu mengurus administrasi seperti SKTM, sehingga akses ke layanan kesehatan menjadi lebih mudah,” ujarnya.
Kasus ini menyoroti pentingnya sinergi antara komunitas tradisional, pemerintah daerah, dan organisasi sosial dalam mengatasi tantangan kesehatan di daerah terpencil. Ular tanah yang berbahaya menjadi ancaman nyata selama musim panen, namun dengan adanya jaringan respon cepat seperti yang dibangun oleh relawan SRI, risiko kematian dapat diminimalisir.
Ke depan, SRI berencana memperluas program edukasi kesehatan kepada warga Badui, termasuk cara mengidentifikasi jenis ular berbahaya, tindakan pertolongan pertama, dan pentingnya melaporkan insiden secara segera. Selain itu, relawan berupaya memperkuat kerja sama dengan puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Lebak, sehingga proses rujukan dapat terjadi lebih cepat lagi.
Dengan keberhasilan penyelamatan Arsunah dan Rani, harapan besar tumbuh di antara masyarakat Badui bahwa bantuan kesehatan yang cepat dan tepat akan terus tersedia, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Upaya kolaboratif ini menjadi contoh nyata bagaimana solidaritas sosial dapat mengatasi tantangan medis di tengah lingkungan yang penuh risiko.
