PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 27 April 2026 | Selat Hormuz, jalur penyeluruhan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, kini hampir tidak lagi dilalui kapal komersial. Blokade yang diterapkan secara simultan oleh Iran dan Amerika Serikat menyebabkan hampir seluruh arus perdagangan maritim terhenti, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi dunia.
Data pelacakan kapal yang dirilis oleh Bloomberg menunjukkan bahwa pada Minggu pagi, satu-satunya kapal kargo kecil pesisir yang terlihat meninggalkan Teluk Persia melalui selat tersebut adalah sebuah kapal tanker kimia berukuran kecil, sementara satu kapal tanker minyak kecil berlayar ke arah berlawanan. Seluruh kapal kontainer, kapal kargo besar, dan hampir semua kapal tanker super yang biasanya melintas di wilayah itu tidak terlihat pada radar.
Situasi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan politik antara kedua negara. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini membatalkan rencana kunjungan utusan senior ke Islamabad, Pakistan, yang seharusnya menjadi platform negosiasi damai. Iran menanggapi langkah tersebut dengan menegaskan tidak akan terlibat dalam perundingan yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade. Kedua belah pihak tetap menegaskan posisi mereka, sehingga jalur pelayaran tetap terkunci.
Angkatan Laut Amerika Serikat memperketat pengawasan di Selat Hormuz dengan mencegat beberapa kapal yang diduga berafiliasi dengan Iran. Salah satunya adalah kapal M/V Sevan yang berada di Laut Arab dan dikenai sanksi. Pada minggu yang sama, dua kapal tanker lain yang sebelumnya bergerak di wilayah itu berhasil diputar balik oleh pasukan AS, sementara dua kapal lainnya diperiksa di Asia. Penangkapan ini memperparah situasi, karena kapal-kapal tersebut sebelumnya berencana mengangkut minyak mentah Iran ke pasar internasional.
Sementara itu, Iran terus mengisi kapal tanker super dengan jutaan barel minyak mentah, meskipun tidak dapat mengirimnya keluar Teluk. Citra satelit menunjukkan dua kapal super tanker berlabuh di terminal Pulau Kharg, dengan setidaknya 19 kapal lain menunggu di perairan sekitarnya. Kedatangan kapal-kapal ini menandakan bahwa pasokan minyak Iran tetap mengalir ke dalam penyimpanan, namun tidak dapat menembus blokade maritim.
Blokade ini juga berdampak pada perusahaan-perusahaan energi di luar kawasan. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi tambahan kepada Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., salah satu penyuling minyak swasta terbesar di China, karena membeli minyak Iran. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengisolasi pasar minyak Iran dan menekan negara-negara pembeli utama, termasuk China.
Akibatnya, pasar energi global mengalami fluktuasi harga yang signifikan. Pedagang minyak melaporkan lonjakan volatilitas, sementara negara-negara yang bergantung pada pasokan dari Selat Hormuz, seperti India, Jepang, dan Korea Selatan, mencari alternatif jalur pengiriman atau meningkatkan stok cadangan. Kenaikan harga ini berpotensi menambah beban ekonomi pada konsumen akhir di seluruh dunia.
Dalam upaya menurunkan ketegangan, beberapa negara sekutu AS, termasuk Inggris dan Prancis, menyerukan dialog diplomatik. Namun, hingga kini tidak ada tanda-tanda pelonggaran blokade dari pihak Iran maupun Amerika Serikat. Pengamat keamanan maritim memperingatkan bahwa jika situasi tidak segera meredup, risiko insiden militer di selat tersebut dapat meningkat, mengancam stabilitas regional dan mengganggu perdagangan global secara lebih luas.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa blokade ini dapat berlanjut selama beberapa minggu, tergantung pada perkembangan negosiasi politik dan langkah-langkah sanksi ekonomi. Sementara itu, komunitas pelaut internasional diminta untuk memperhatikan peringatan keamanan dan menghindari area yang sangat dipantau, demi mengurangi risiko konfrontasi di laut.
Ketegangan yang berlangsung di Selat Hormuz menegaskan kembali pentingnya jalur laut ini bagi ekonomi dunia. Blokade yang dipicu oleh perselisihan geopolitik tidak hanya mengancam pasokan minyak, tetapi juga menimbulkan dampak luas pada stabilitas ekonomi global.
