PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | Maryanti Puji Astuti, yang akrab dipanggil Yanti, menjadi sorotan media Indonesia setelah berhasil menapaki karier sebagai pengemudi bus di Melbourne, Australia sejak 2021. Latar belakangnya jauh berbeda; sebelum pindah ke Australia ia bekerja sebagai manajer agensi asuransi di sebuah bank di Depok. Perubahan profesi ini dimulai ketika ia melihat seorang perempuan mengemudi bus di jalanan Melbourne pada tahun 2018, yang menumbuhkan impian untuk mengendarai kendaraan publik berukuran besar.
Pada tahun 2020, Yanti mengikuti kursus khusus untuk memperoleh Medium Rigid (MR) Licence, sebuah izin mengemudi yang diperlukan untuk mengoperasikan bus kota. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia melamar di Ventura Bus pada April 2021. Proses seleksi berlangsung singkat: wawancara, ujian mengemudi, dan pemeriksaan medis selesai dalam dua minggu, sehingga ia resmi bergabung sebagai sopir bus Dandenong.
Awal perjalanan tidaklah mulus. Yanti mengaku sempat merasa ingin menyerah karena mengemudi bus jauh berbeda dengan mobil. Bus membutuhkan ruang manuver yang lebih luas, perhitungan jalur yang cermat, serta koordinasi dengan kendaraan lain di jalan. “Kalau mobil kan belok, belok saja. Kalau bus, butuh perhitungan yang tepat,” ujarnya. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Indah Adjam, rekan kerja Yanti yang mengemudikan SkyBus, layanan transportasi bandara di Melbourne.
Indah menjelaskan bahwa pelatihan awal selama satu hingga dua minggu penuh tantangan, bahkan membuatnya terisak karena harus menguasai kendaraan berukuran besar yang belum pernah ia temui. Namun, setelah terbiasa, ia menyatakan mengemudi SkyBus terasa seperti mengendarai mobil pribadi yang versi lebih besar, lengkap dengan interaksi langsung dengan penumpang, membantu mengangkat bagasi, dan memastikan kepuasan setiap penumpang.
Selain tantangan teknis, Yanti menghadapi situasi sosial di jalan. Ia harus selalu waspada terhadap kendaraan lain dan pejalan kaki yang kadang menyeberang tanpa melihat. Penumpang juga memiliki keinginan yang beragam; beberapa meminta berhenti di tempat yang tidak ada halte resmi. Yanti menegaskan bahwa ia tidak dapat menurunkan penumpang di sembarang tempat demi keamanan dan kepatuhan pada regulasi. Jika terjadi penumpang yang mengganggu atau mabuk, ia segera menghubungi Operator Centre (OCC) untuk mendapatkan bantuan, termasuk melibatkan polisi bila diperlukan.
Manajemen waktu menjadi aspek krusial dalam pekerjaan ini. Yanti harus menghitung durasi tiap rute, memperkirakan waktu berhenti di setiap halte, dan memastikan bus tiba tepat waktu. Kedisiplinan tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan penumpang, tetapi juga mencerminkan profesionalisme pengemudi Indonesia di luar negeri. Setiap ucapan terima kasih dari penumpang menjadi sumber kepuasan tersendiri bagi Yanti, yang menegaskan, “Itu ada kepuasan tersendiri ketika penumpang mengucapkan terima kasih, bus driver.”
Keberhasilan Yanti dan rekan-rekannya menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia yang ingin menembus industri transportasi yang didominasi laki-laki. Dengan tekad, pelatihan intensif, dan dukungan dari perusahaan serta otoritas transportasi Australia, mereka membuktikan bahwa batasan gender dapat dilampaui. Kisah mereka tidak hanya menambah kebanggaan diaspora Indonesia, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi generasi mendatang.
Secara keseluruhan, perjalanan Yanti dari manajer asuransi di Depok hingga menjadi pengemudi bus di Melbourne mengajarkan nilai ketekunan, adaptasi, dan keberanian untuk mengejar impian di tanah asing. Pengalaman ini menegaskan bahwa kontribusi tenaga kerja Indonesia dapat dirasakan secara global, sekaligus memperkuat citra positif perempuan Indonesia di dunia profesional.
