Konflik Timur Tengah Memburuk, AS dan Arab Saudi Lakukan Serangan Gabungan ke Irak

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 Juli 2026 | Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melakukan serangan gabungan ke Irak. Serangan tersebut ditujukan kepada kelompok milisi yang didukung oleh Iran. Menurut laporan, setidaknya 20 orang tewas dalam serangan tersebut.

AS dan Arab Saudi mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap pasukan AS di Irak serta serangan drone yang menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi. Saudi Arabia juga telah mengumumkan bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa drone yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur.

Baca juga:

Kelompok milisi yang didukung oleh Iran membantah tuduhan bahwa mereka berada di balik serangan tersebut. Mereka juga memperingatkan Arab Saudi agar tidak melakukan serangan ke wilayah Irak. Sementara itu, Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud, seorang pangeran Arab Saudi, ditemukan tewas di sebuah hotel mewah di London. Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa sang pangeran mengalami henti jantung setelah mengonsumsi campuran alkohol dan sejumlah zat terlarang dalam kadar tinggi.

Baca juga:

Saudi Arabia juga menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Mereka juga meminta pemerintah Irak untuk mengambil tindakan untuk mencegah insiden serupa terulang. Dalam sidang pemeriksaan jenazah, hasil analisis toksikologi menunjukkan bahwa Pangeran Abdullah memiliki kadar alkohol dalam darah yang tinggi, serta ditemukan gamma-hydroxybutyrate (GHB) dengan kadar yang berpotensi mematikan, alprazolam yang dikenal dengan merek Xanax, ganja, serta sejumlah obat anticemas lainnya dalam tubuhnya.

Baca juga:

Selain itu, Arab Saudi juga menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk membela diri dan melindungi infrastruktur vital mereka. Mereka juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Dalam sidang pemeriksaan jenazah, terungkap bahwa tiga bulan sebelum meninggal, Pangeran Abdullah menjalani perawatan intensif di Priory Clinic, Roehampton, London, karena ketergantungan alkohol, benzodiazepin, dan obat anticemas pregabalin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *