PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 Juni 2026 | Korea Selatan dan Türkiye terus memperkuat hubungan ekonomi mereka melalui kerja sama strategis di berbagai sektor, termasuk energi nuklir, kecerdasan buatan, industri pertahanan, dan mineral kritis.
Pertemuan komite gabungan keenam yang dibentuk di bawah perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara Türkiye dan Korea Selatan diharapkan dimulai pada tanggal 23 Juni.
Pertemuan dua hari ini akan membahas investasi bersama dan mengevaluasi peta jalan untuk mencapai hubungan perdagangan yang lebih seimbang.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengunjungi Türkiye pada November tahun lalu, dan pejabat tinggi Türkiye, termasuk menteri energi dan luar negeri, juga mengunjungi Korea sejak itu.
Perusahaan energi nuklir Türkiye, TüNAŞ, dan perusahaan utilitas listrik Korea Selatan, KEPCO, menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama energi nuklir selama kunjungan presiden Korea Selatan.
Korea Selatan, bersama dengan Kanada, lama menjadi salah satu calon pembangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Türkiye.
Türkiye, yang diharapkan akan memulai pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya yang dibangun oleh Rosatom Rusia di kota Mersin selatan, juga berencana untuk memiliki dua pembangkit lagi di provinsi Sinop utara dan wilayah Trakia.
Hubungan ekonomi antara Ankara dan Seoul terus berkembang berdasarkan perdagangan, investasi, dan kerja sama teknologi, serta hubungan politik yang kuat sejak Perang Korea.
Hubungan perdagangan, yang memperoleh dimensi baru dengan FTA yang ditandatangani pada 2012 dan diterapkan pada 2013, telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir di berbagai sektor, dari otomotif dan pertahanan hingga energi dan teknologi digital.
Sementara itu, dalam dunia olahraga, atlet Boccia Yushae Desilva Andrade dari Bermuda memenangkan medali emas di divisi wanita BC1 pada Kejuaraan Boccia Challenger Dunia 2026 di Birmingham, Alabama.
Andrade mencatat hasil imbang 4-4 melawan Sohyeon Park dari Korea Selatan dan juga mengalahkan Yi-Ting Tsai dari Taiwan untuk memenangkan medali emas.
Dalam survei yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS), elit strategis di Jepang dan Korea Selatan menunjukkan skepisisme terhadap pengembangan senjata nuklir.
Namun, jika salah satu negara memutuskan untuk mengembangkan senjata nuklir, dukungan untuk langkah tersebut di negara lain dapat meningkat dengan cepat, menurut survei yang dipublikasikan pada hari Kamis.
Dampak dari langkah tersebut dapat melebihi pengurangan penempatan pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut, sehingga memengaruhi stabilitas nuklir di Asia Timur Laut, menurut para ahli CSIS.
Survei tersebut melibatkan responden yang terdiri dari pejabat pemerintah saat ini dan mantan, anggota parlemen, akademisi, ahli think tank, dan eksekutif perusahaan.
Menurut survei, 75 persen elit strategis Korea Selatan dan hampir 80 persen elit strategis Jepang mengekspresikan oposisi atau ketidakpastian terhadap pengembangan senjata nuklir oleh negara mereka masing-masing.
Temuan ini bertentangan dengan survei opinium publik di Korea Selatan, yang menunjukkan bahwa lebih dari 72 persen masyarakat mendukung pengembangan senjata nuklir oleh negara mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan dan Türkiye terus memperkuat hubungan ekonomi dan strategis mereka, sementara Jepang dan Korea Selatan tetap skeptis terhadap pengembangan senjata nuklir.
Kesimpulan dari berbagai informasi ini menunjukkan bahwa hubungan internasional yang kompleks terus berkembang, dengan fokus pada kerja sama ekonomi, strategis, dan teknologi, serta stabilitas regional yang terjaga melalui kerja sama dan dialog.
