PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 24 April 2026 | Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menegaskan kebijakan nuklir negaranya dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Putih pada 23 April 2026. Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran, Trump menolak keras opsi tersebut. Ia menekankan, “Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir ketika kita telah menghancurkan Iran sepenuhnya tanpa itu?” serta menambahkan bahwa senjata nuklir “seharusnya tidak pernah diizinkan untuk digunakan oleh siapa pun”.
Pernyataan itu muncul setelah serangkaian operasi militer yang, menurut Trump, berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir Iran pada Juni 2025 dan selama konflik berdurasi 40 hari. Ia menyatakan bahwa serangan tersebut menghancurkan infrastruktur nuklir Tehran, menjadikan Iran tidak mampu memproduksi senjata nuklir setidaknya dalam dua puluh tahun ke depan. Klaim tersebut diulang dalam beberapa kesempatan, termasuk pada konferensi pers tanggal 24 April 2026, di mana Trump menegaskan kembali, “Tidak, saya tidak akan menggunakannya,” ketika ditanya tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir.
Trump juga menyoroti situasi geopolitik yang lebih luas. Ia menuduh Iran telah menutup Selat Hormuz secara total, memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak. Penutupan tersebut, menurutnya, memperparah tekanan ekonomi dunia dan menambah urgensi penyelesaian diplomatik. Meskipun demikian, ia menolak penggunaan senjata nuklir sebagai solusi, menegaskan bahwa “senjata nuklir tidak pernah menjadi pilihan yang sah”.
Di samping pernyataan tentang Iran, Trump membahas pula kondisi persenjataan nuklir dunia. Meskipun sumber resmi tentang jumlah senjata nuklir tidak dapat diakses secara langsung, data yang umum dipublikasikan menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Rusia menguasai sekitar dua pertiga dari total persediaan senjata nuklir global. Kedua negara tersebut masing-masing memiliki ribuan hulu ledak, sementara negara-negara lain seperti China, Prancis, dan Inggris memiliki stok yang lebih kecil namun signifikan.
- AS dan Rusia menguasai ~66% persediaan senjata nuklir dunia.
- Iran diperkirakan masih dalam tahap pengembangan, namun Trump yakin tidak akan mencapai kemampuan nuklir dalam 20 tahun.
- Penggunaan senjata nuklir tetap menjadi isu sensitif dalam kebijakan internasional.
Trump menambahkan bahwa meskipun Iran sempat melakukan pengisian ulang persenjataan selama gencatan senjata dua minggu, Amerika Serikat siap menghancurkannya dalam waktu singkat jika terjadi eskalasi. Ia menekankan, “Angkatan laut mereka telah hancur. Angkatan udara mereka telah hancur, pertahanan anti-pesawat mereka telah hancur…” dan menegaskan kemampuan militer AS untuk melakukan serangan balasan yang cepat.
Pengakuan Trump tentang tidak akan menggunakan senjata nuklir juga mendapat sorotan dari kalangan militer senior. Laporan internal mengindikasikan bahwa upaya Trump untuk mengakses kode nuklir pada pertemuan darurat di Gedung Putih beberapa minggu lalu dihentikan oleh pejabat militer senior, menyoroti adanya ketegangan antara kepemimpinan eksekutif dan otoritas militer dalam pengendalian senjata strategis.
Secara ekonomi, konflik Iran-ASI telah menimbulkan dampak signifikan. Penutupan Selat Hormuz mengakibatkan penurunan pasokan minyak global, menaikkan harga minyak mentah hingga level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia, merasakan tekanan inflasi yang meningkat, memaksa pemerintah mencari alternatif pasokan energi.
Menjawab kritik internasional, Trump menegaskan kembali bahwa senjata nuklir seharusnya tidak dipergunakan oleh negara manapun, termasuk AS. Ia menutup pernyataannya dengan harapan dapat mencapai “kesepakatan abadi” yang mengakhiri konflik tanpa melibatkan senjata pemusnah massal.
Kesimpulannya, pernyataan tegas Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik dengan Iran, sekaligus menilai bahwa Iran tidak akan mampu mengembangkan senjata nuklir dalam dua dekade ke depan. Kebijakan ini mencerminkan upaya menyeimbangkan kekuatan militer dengan diplomasi, sambil menghindari eskalasi nuklir yang dapat menimbulkan konsekuensi global yang tak terukur.
