Peta Kekuatan NU Menguak 5 Poros Paslon di Muktamar ke-35 – Siapa Paling Kuasa?

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika internal organisasi semakin memanas. Meskipun NU tidak secara resmi mengakui istilah pasangan calon, peta kekuatan NU yang terbentuk di antara tokoh-tokoh senior memperlihatkan adanya lima poros utama yang bersaing untuk mengisi posisi Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU). Persaingan ini tidak hanya menjadi sorotan internal, tetapi juga menarik perhatian publik karena potensi dampaknya terhadap arah kebijakan keagamaan dan sosial di Indonesia.

Pengamat HRM. Khalilur menegaskan bahwa kedua posisi puncak – Rais Aam dan Ketua Umum – saling terkait. “Kepemimpinan NU tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil konfigurasi dua poros sekaligus,” ujarnya pada Selasa (28/4/2026). Mekanisme pemilihan Rais Aam melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi arena strategis, di mana masing-masing poros berusaha memetakan kiai‑kiai yang memiliki hak suara.

Baca juga:

Berikut rangkuman lima poros yang saat ini tampak paling berpengaruh:

  • Poros Petahana: Dipimpin oleh Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf. Sebagai figur yang memegang kursi tertinggi, ia mengandalkan jaringan luas di tingkat wilayah dan cabang serta dukungan dari kalangan moderat yang menekankan modernisasi organisasi.
  • Poros Pendukung Said Aqil Siradj: Kelompok ini mengusung kembali Said Aqil Siradj ke posisi Rais Aam. Dukungan berasal dari para kiai senior yang menganggap kepemimpinan Siradj sebagai jaminan kontinuitas visi‑visi progresif NU.
  • Poros Miftachul Akhyar: Berpusat pada Miftachul Akhyar, yang saat ini menjabat Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Poros ini menekankan pentingnya peran birokrasi internal dan penguatan struktur administratif dalam proses pemilihan.
  • Poros Cak Imin (Muhaimin Iskandar): Didukung oleh tokoh internal NU yang sebelumnya terlibat dalam wacana Muktamar Luar Biasa (MLB). Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dipandang memiliki pengalaman politik nasional lebih dari dua dekade, serta garis keturunan genealogis sebagai cicit KH Bisri Syansuri.
  • Poros Independen/Strategis: Kelompok yang belum memiliki tokoh tunggal, namun berperan sebagai penyeimbang. Mereka berupaya mempengaruhi keputusan melalui aliansi lintas poros, terutama dalam hal penentuan jadwal Muktamar yang didorong oleh PWNU.

Jadwal Muktamar menjadi isu penting. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyambut baik usulan Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) se‑Indonesia untuk melaksanakan Muktamar pada akhir Juli atau awal Agustus 2026. “Aspirasi PWNU sejalan dengan hasil rapat pleno PBNU dan kebijakan Rais Aam,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta. Ia menambahkan bahwa panitia kecil telah dibentuk untuk mengatur teknis pelaksanaan, termasuk tim panel yang dipimpin Prof. Mohammad Nuh untuk menyelesaikan masalah surat keputusan (SK) kepengurusan.

Baca juga:

Dalam konteks politik internal, pergerakan para tokoh menyoroti strategi jangka panjang. Poros petahana berupaya mempertahankan status quo, sementara poros pendukung Said Aqil menitikberatkan pada konsolidasi suara AHWA. Poros Miftachul Akhyar berfokus pada prosedur administratif, sedangkan poros Cak Imin mengandalkan jaringan politik luar organisasi untuk memperkuat legitimasi. Poros independen menjadi penentu dalam situasi yang dapat berubah mendadak, misalnya jika terdapat perubahan dukungan di tingkat wilayah.

Para pengamat menilai bahwa tradisi penghormatan kepada kiai sepuh masih menjadi faktor penentu. “Musyawarah tetap menjadi arena utama, dan keputusan akhir dapat berubah pada menit‑menit terakhir,” kata Khalilur. Oleh karena itu, meski peta kekuatan NU sudah terbaca jelas, hasil akhir Muktamar masih penuh ketidakpastian.

Baca juga:

Secara keseluruhan, lima poros tersebut mencerminkan keragaman aspirasi dalam organisasi terbesar umat Islam di Indonesia. Persaingan ini tidak hanya tentang posisi kepemimpinan, melainkan juga tentang arah kebijakan keagamaan, sosial, dan politik yang akan dijalankan NU ke depannya. Bagaimana hasil akhir Muktamar akan memengaruhi posisi NU di kancah nasional tetap menjadi pertanyaan utama yang menanti jawaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *