PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Agustus 2026 | Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyebut istilah “londo ireng” dalam salah satu pernyataannya. Istilah ini kemudian menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa pernyataan Prabowo tersebut merupakan candaan atau ice breaking untuk mencairkan suasana dan mengingatkan pentingnya persatuan nasional.
Menurut Fadli, Prabowo memiliki karakter yang humoris dan pernyataannya tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kepentingan asing yang berpotensi memecah belah bangsa. Ia juga menyinggung buku “Confessions of an Economic Hit Man” karya John Perkins yang mengulas pengaruh kepentingan ekonomi asing terhadap negara lain.
Fadli menilai bahwa masyarakat tidak perlu merasa tersinggung apabila tidak merasa menjadi bagian dari kelompok yang dimaksud oleh Prabowo. Ia menekankan bahwa pesan yang hendak disampaikan Prabowo adalah ajakan menjaga persatuan nasional dan meningkatkan kewaspadaan terhadap campur tangan asing.
Isu londo ireng ini juga dibahas oleh Ferdinandus Jehalut dalam artikelnya. Menurutnya, istilah londo ireng yang pada masa kolonial dilekatkan kepada mereka yang dianggap membantu kepentingan penjajah kini memperoleh fungsi politik baru, yaitu menggeser perhatian publik dari isi kritik kepada identitas pengkritiknya.
Jehalut menilai bahwa gejala ini tampak ketika Presiden Prabowo Subianto berulang kali menyebut jurnalis, akademisi, aktivis LSM, dan kelompok kritis sebagai londo ireng dan antek asing. Menurutnya, label ini membawa konsekuensi dan mengingatkan bahwa dalam sejarah Indonesia selalu ada pihak-pihak yang tidak bekerja untuk kepentingan nasional.
Dalam konteks ini, pernyataan Prabowo tentang londo ireng dapat dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kepentingan asing dan memperkuat persatuan nasional. Namun, perlu diingat bahwa kritik dan perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi dan harus dihargai untuk membangun masyarakat yang lebih baik.
Kesimpulan dari isu ini adalah bahwa pernyataan Prabowo tentang londo ireng harus dipandang dalam konteks yang lebih luas, yaitu upaya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kepentingan asing dan memperkuat persatuan nasional. Namun, perlu diingat bahwa kritik dan perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi dan harus dihargai untuk membangun masyarakat yang lebih baik.
