PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 07 Agustus 2026 | Hujan meteor Perseid dikenal sebagai salah satu fenomena astronomi paling populer karena menghasilkan meteor yang terang dan sering meninggalkan jejak cahaya panjang di langit. Fenomena ini berlangsung setiap tahun dan tercatat sebagai salah satu hujan meteor tertua karena telah diamati sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.
Puncak hujan meteor Perseid 2026 diperkirakan berlangsung pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026. Jika penasaran, simak informasi seputar jadwal puncak, penyebab, hingga cara terbaik menyaksikannya berikut ini!
Mengutip laman resmi NASA, aktivitas hujan meteor Perseid sebenarnya sudah mulai meningkat sejak awal Juli dan akan terus terlihat di langit malam hingga akhir Agustus 2026. Meski begitu, puncak utamanya diprediksi jatuh pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026.
Saat puncak fenomena berlangsung, Bulan akan berada dalam fase bulan baru. Kondisi langit akan sangat gelap sehingga hujan meteor Perseid bisa dilihat dengan jelas. Berdasarkan informasi dari The Planetary Society, hujan meteor Perseid terjadi akibat serpihan debu dan puing yang ditinggalkan oleh komet bernama 109P/Swift-Tuttle.
Komet ini mengelilingi matahari dalam siklus sekitar 133 tahun sekali, dan terakhir kali melintas dekat Bumi pada tahun 1992. Ketika Bumi melintasi jalur orbit sisa-sisa komet tersebut, partikel debu dan batuan kecil akan memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan garis cahaya terang yang biasa disebut meteor atau bintang jatuh.
Menurut NASA, hujan meteor Perseid bisa menghasilkan 50 hingga 100 meteor setiap jamnya. Di bawah langit gelap tanpa cahaya bulan, jumlah meteor yang terlihat bahkan bisa mencapai 90 kali per jam atau lebih.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang pada Sabtu (8/8/2026). Berdasarkan catatan BMKG, sekitar 95,62 persen wilayah Indonesia telah mengalami curah hujan kategori rendah.
Kondisi ini meliputi sebagian wilayah Papua, Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara. Aktivitas atmosfer seperti gelombang Kelvin, gelombang Ekuatorial Rossby, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia bagian barat disebut masih meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
Di sisi lain, hingga akhir Juli 2026, BMKG mencatat lebih dari 1.600 titik pengamatan di Indonesia tidak mengalami hujan selama satu hingga dua bulan berturut-turut. Bahkan, di lebih dari 300 titik, kondisi kekeringan ekstrem telah terjadi karena tidak turun hujan selama lebih dari 60 hari.
Memmanjangnya periode tanpa hujan tersebut mulai memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.
Selain itu, BMKG juga memperingatkan adanya peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 25 knot di sejumlah wilayah perairan, seperti Laut Andaman, Laut Natuna, Laut China Selatan, Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, Selat Makassar bagian selatan, Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Arafuru, Laut Timor, dan Teluk Carpentaria.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut di wilayah perairan tersebut.
Untuk mengamati hujan meteor Perseid, pastikan Anda berada di lokasi yang gelap dan jauh dari cahaya kota. Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Perseid adalah pada pukul 2 dini hari, ketika radiasi meteor berada di titik tertinggi di langit.
Pastikan Anda memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan kegelapan, sehingga Anda dapat melihat meteor dengan lebih jelas. Jika memungkinkan, bawalah teman atau keluarga untuk menikmati keindahan hujan meteor Perseid bersama.
Dengan demikian, Anda dapat menikmati keindahan hujan meteor Perseid dan mengabadikan momen tersebut sebagai kenangan yang tak terlupakan.
