PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Juli 2026 | Starbucks Korea baru-baru ini mengumumkan penutupan 2.000 gerainya setelah terjadi skandal promosi "Tank Day" yang menyinggung tragedi Gwangju. Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), perusahaan ini berupaya meningkatkan kepekaan sosial karyawannya.
Pelanggan Starbucks pastinya sudah tidak asing dengan istilah ukuran minuman Tall, Grande, dan Venti. Ternyata, ada makna di baliknya. Namun, di balik kesuksesan tersebut, karyawan Starbucks di AS menggelar aksi mogok terbuka di depan gerai Starbucks New York.
Aksi mogok tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional yang menuntut upah dan tunjangan yang lebih layak. Barista Starbucks mengadakan aksi mogok di lebih dari 40 kota AS, bertepatan dengan Hari Red Cup. Mereka menuntut kenaikan upah dan jam kerja yang lebih manusiawi.
Karyawan Starbucks juga berencana untuk melakukan aksi mogok massal mulai 13 November 2025, bertepatan dengan Red Cup Day. Serikat pekerja menuntut perbaikan jam kerja dan upah yang lebih tinggi.
Sementara itu, di China, Starbucks berencana untuk menjual 60% saham bisnisnya kepada perusahaan investasi Boyu Capital. Di Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa laporan pejabat Bea Cukai yang nongkrong di Starbucks tidak benar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga melakukan pengecekan CCTV setelah laporan pegawai Bea Cukai nongkrong di Starbucks. Ternyata, bukan pegawai Bea Cukai yang dimaksud. Ia akan tindak tegas pelanggaran serupa.
Dalam beberapa bulan terakhir, Starbucks telah menghadapi beberapa masalah, mulai dari skandal promosi hingga aksi mogok karyawan. Namun, perusahaan ini tetap berupaya untuk meningkatkan kepekaan sosial dan memperbaiki kondisi kerja karyawannya.
Starbucks perlu memperhatikan kebutuhan dan keinginan karyawannya, serta meningkatkan kepekaan sosial untuk menghindari skandal promosi yang merugikan. Dengan demikian, perusahaan ini dapat mempertahankan reputasinya dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
