BI Rate Hari Ini: Stabilitas Rupiah dan Strategi Investasi

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 01 Agustus 2026 | Bank Indonesia (BI) baru-baru ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Juli 2026. Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi kebijakan yang terintegrasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi.

Selain mempertahankan BI Rate, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,5%. Perry menjelaskan bahwa keputusan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

Baca juga:

Menurut data terbaru, inflasi Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan, masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67%, cadangan devisa berada di level US$145,6 miliar, dan uang primer (M0) tumbuh 14,1% YoY. Di sisi digitalisasi sistem pembayaran, volume transaksi QRIS melonjak lebih dari 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekonom senior Ferry Latuhihin menyoroti kabar adanya ketegangan antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo terkait kebijakan suku bunga acuan BI rate. Menurut Ferry, perbedaan pandangan itu muncul saat Perry masih menjabat sebagai Gubernur BI dan memilih mempertahankan BI rate di level 5,75 persen. Purbaya disebut tidak sejalan dengan keputusan tersebut.

Ferry menilai langkah Perry mempertahankan suku bunga acuan adalah keputusan yang tepat dari sisi moneter. Ia menegaskan, menaikkan BI rate ke 6 persen demi menjaga stabilitas rupiah justru akan menambah beban ekonomi. Namun, Ferry juga menekankan bahwa menurunkan BI rate bukanlah solusi, karena akan memperbesar tekanan terhadap rupiah di tengah dominasi dolar.

Baca juga:

Di lain pihak, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum mengubah strategi investasi industri dana pensiun. Hingga Mei 2026, Surat Berharga Negara (SBN) masih menjadi instrumen investasi utama dengan porsi 65,25% dari total portofolio dana pensiun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan total investasi industri dana pensiun mencapai Rp1.619,54 triliun per Mei 2026 atau tumbuh 7,76% secara tahunan. Dari total tersebut, investasi pada SBN mencapai Rp1.056,79 triliun, sedangkan penempatan dana pada deposito tercatat Rp222,35 triliun atau sekitar 13,73% dari total portofolio.

Ogi menambahkan bahwa karakteristik SBN yang mampu menawarkan keseimbangan antara aspek keamanan, likuiditas, dan imbal hasil membuat instrumen tersebut tetap menjadi pilihan utama pengelola dana pensiun meskipun terjadi perubahan suku bunga.

Baca juga:

Bank Indonesia juga mencatat aliran dana asing telah masuk Rp 195 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Januari-Juni 2026. Pejabat sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menuturkan, salah satu faktor untuk menjaga kestabilan rupiah yakni mendorong aliran dana asing (capital inflow) masuk ke Indonesia.

Destry menambahkan, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sejak Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2026 telah mendorong aliran dana asing masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Aliran dana asing yang masuk itu relatif besar dan sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menambah likuiditas di pasar.

Kesimpulan, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% merupakan keputusan yang tepat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi. Selain itu, investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) masih menjadi pilihan utama pengelola dana pensiun karena menawarkan keseimbangan antara aspek keamanan, likuiditas, dan imbal hasil. Aliran dana asing yang masuk ke Indonesia juga relatif besar dan sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menambah likuiditas di pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *