PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan koreksi pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Setelah penutupan pada Jumat (24/4) dengan penurunan 3,38% ke level 7.129, indeks ini masih berada dalam zona merah dan tekanan jual masih mendominasi. Analis MNC Sekuritas menilai bahwa IHSG berada pada gelombang koreksi akhir (wave [v] pada label hitam atau wave [b] pada wave B berlabel merah), yang menandakan rentang koreksi terdekat akan menguji level 7.022‑7.115 dan sekaligus menutup area gap yang terbentuk.
Secara teknikal, level support utama diperkirakan berada di 7.022 dan 6.917, sementara resistance berada di 7.313 dan 7.484. Kondisi ini sejalan dengan pandangan Phintraco Sekuritas yang menyoroti tekanan jual berkelanjutan akibat sentimen geopolitik, terutama ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan moneter global. Investor diperkirakan akan menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 April serta kebijakan suku bunga Bank of Japan pada 28 April sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Di tengah prospek melemahnya indeks, beberapa saham tetap masuk dalam radar rekomendasi analis. MNC Sekuritas menyoroti empat saham yang berada dalam zona “Buy on Weakness” (beli pada kelemahan). Berikut rangkuman singkat:
- ADMR – Saham ini menguat 1,90% ke Rp1.880 dengan volume beli yang meningkat. Analis memperkirakan posisi ADMR berada pada wave [b] dari wave B. Target harga: Rp1.970‑2.090, stoploss di bawah Rp1.740.
- BULL – Meskipun mengalami koreksi 4,50% ke Rp530, saham BULL masih dipandang berada pada wave 4 dari wave (C) wave [B]. Target harga: Rp595‑630, stoploss di bawah Rp468.
- DAAZ – Saham DAAZ naik 5,80% ke Rp2.370, namun belum berhasil menembus moving average 20 hari. Posisinya diperkirakan berada pada wave [v] dari wave C. Target harga: Rp2.670‑2.910, stoploss di bawah Rp1.805.
- HRTA – HRTA terkoreksi 2,66% ke Rp2.930 dan diprediksi berada pada wave [iv] dari wave C (wave B). Target harga: Rp3.120‑3.280, stoploss di bawah Rp2.660.
Selain keempat saham di atas, analis Phintraco menambahkan daftar saham potensial untuk pekan ini, antara lain ADRO, SRTG, ADMR, BFIN, ISAT, dan ULTJ. ADRO dan SRTG khususnya mendapat sorotan karena fundamental yang kuat dan eksposur pada sektor energi serta infrastruktur, yang dapat menawarkan peluang upside meski pasar indeks sedang lemah.
Dari perspektif makro, faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG meliputi:
- Sentimen global – Konflik di Selat Hormuz dan ketegangan Israel‑Lebanon menambah volatilitas harga komoditas energi, yang pada gilirannya memengaruhi saham-saham energi di Bursa.
- Kebijakan moneter AS – Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%‑3,75%, sementara data ekonomi Amerika (consumer confidence, PDB kuartal I, indeks PCE) akan menjadi indikator tambahan bagi pasar.
- Nilai tukar Rupiah – Fluktuasi Rupiah terhadap USD, yang sempat menyentuh level 17.300 per dolar, tetap menjadi faktor risiko bagi investor lokal.
- Data ekonomi regional – Kebijakan suku bunga Bank of Japan dan data PDB Eropa akan menambah dimensi tambahan pada alur pergerakan modal.
Meskipun IHSG berada dalam fase koreksi, volatilitas yang tinggi memberi peluang bagi trader yang mengadopsi strategi “buy on weakness” pada saham-saham yang masih berada di zona oversold. Penting bagi investor untuk menyesuaikan stoploss secara ketat, mengingat potensi rebound yang terbatas di tengah tekanan jual yang masih kuat.
Secara keseluruhan, pasar indeks diproyeksikan akan bergerak dalam kisaran terbatas dengan kecenderungan ke arah penurunan. Level support di 7.022 dan 6.917 menjadi titik penting bagi pembeli, sementara resistance di 7.313 dan 7.484 menjadi batas atas bagi penjual. Investor disarankan untuk memantau perkembangan data ekonomi global serta kebijakan moneter utama sebelum menambah atau mengurangi posisi pada saham-saham rekomendasi.
