PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 09 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan sebesar 7,57 persen ke level 5.746 pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026. Kenaikan ini dipicu oleh sentimen positif dari dorongan pembelian kembali saham oleh emiten BUMN untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Bank Indonesia (BI) juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keputusan ini diambil di luar jadwal rutin Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang seharusnya digelar pekan depan.
Respons pasar terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,65 persen ke level Rp18.065 per dolar AS pada penutupan perdagangan. Phintraco Sekuritas dalam risetnya menilai bahwa rebound IHSG didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, termasuk dorongan DPR agar emiten BUMN melakukan pembelian kembali saham atau buyback.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengingatkan pemerintah agar tidak mengumumkan kebijakan yang masih prematur dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Peringatan ini disampaikan di tengah tekanan yang masih membayangi perekonomian nasional, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan terhadap perbankan nasional. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa sektor jasa keuangan masih kuat di tengah tekanan nilai tukar rupiah.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih baik, meski ada sejumlah hal yang harus diperhatikan di tengah situasi perang di berbagai belahan dunia. Luhut menilai kenaikan suku bunga acuan sebagai kebijakan yang baik.
Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terus melemah, namun dengan keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan, diharapkan nilai tukar rupiah dapat distabilkan. Namun, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kenaikan suku bunga acuan ini belum cukup kuat untuk menggenjot kurs rupiah yang kian melemah.
Untuk itu, perlu dilakukan usaha lebih lanjut untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memperbaiki fundamental ekonomi. Dengan demikian, diharapkan nilai tukar rupiah dapat distabilkan dan perekonomian nasional dapat kembali pulih.
