PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 18 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini menjadi sorotan banyak pihak, terutama setelah melemahnya nilai tukar rupiah beberapa waktu belakangan. Menurut data terbaru, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif tetapi cenderung melemah pada rentang Rp17.470 hingga Rp17.530 per dolar AS.
Banyak faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah, salah satunya adalah kebijakan moneter yang diterapkan oleh otoritas moneter. Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa pengurasan cadangan devisa (cadev) dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) oleh otoritas moneter menjadi konsekuensi logis untuk meredam kejatuhan nilai tukar rupiah.
Yusuf menjelaskan bahwa dalam rezim nilai tukar mengambang terkendali (managed floating), terkurasnya cadangan devisa di tengah tingginya tekanan kurs adalah hal yang wajar. "Pelemahan cadangan devisa saat tekanan kurs meningkat justru merupakan konsekuensi normal dari fungsi bank sentral sebagai stabilizer pasar. Cadangan devisa memang disiapkan untuk digunakan ketika volatilitas meningkat, bukan sekadar disimpan pasif," ujarnya.
Sejarah nilai tukar rupiah juga menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah pernah sangat kuat pada awal kemerdekaan, yaitu berada di level Rp3,80 per USD. Namun, ketidakstabilan politik dan inflasi tinggi perlahan menggerus nilainya. Tahun 1957, Rupiah merosot ke level Rp90 dan krisis semakin parah pada 1962 hingga menyentuh Rp1.205.
Puncaknya terjadi saat peristiwa G30S PKI tahun 1965, Rupiah anjlok ke angka Rp4.995 per USD. Guna menyelamatkan ekonomi, pemerintah melakukan sanering atau pemotongan nilai uang di mana Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru, yang dipatok pada Rp0,25 per USD.
Di era kepemimpinan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, nilai tukar rupiah pernah mencapai titik terendah, yakni Rp 17.000 per dollar AS. Namun, di bawah kepemimpinannya, Rupiah perlahan mulai menguat menjadi Rp 6.500 per dollar AS. BJ Habibie mengibaratkan pelemahan Rupiah pada krisis ekonomi Indonesia 1998 dengan kondisi pesawat yang terbang dalam keadaan stall.
Salah satu kebijakan yang diambil BJ Habibie untuk mengerek nilai tukar Rupiah adalah dengan menggabungkan (merger) beberapa bank menjadi bank baru yang lebih kuat dari sisi pendanaannya. Salah satu hasil dari penggabungan bank tersebut adalah Bank Mandiri. Tak sampai di situ, Habibie juga mengambil keputusan besar dengan memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintah.
Kondisi nilai tukar rupiah saat ini juga memengaruhi industri otomotif nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mulai menjadi perhatian industri otomotif nasional. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi biaya produksi hingga harga jual kendaraan di Indonesia.
Meskipun demikian, sejumlah pabrikan mobil asal Korea mengaku hingga saat ini belum melakukan penyesuaian harga kendaraan di tengah pergerakan rupiah yang melemah. Head of Marketing Kia Sales Indonesia Rendy Pratama mengatakan, pihaknya masih terus memonitor dinamika nilai tukar rupiah secara berkala.
Kesimpulan dari kondisi nilai tukar rupiah saat ini adalah bahwa nilai tukar rupiah masih sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Otoritas moneter dan pemerintah perlu terus memantau dan mengambil kebijakan yang tepat untuk meredam kejatuhan nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
