Rial Iran Anjlok Tajam ke 1,81 Juta per Dolar AS: Blokade Laut Amerika Picu Krisis Ekonomi Tehran

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Rial Iran merosot ke titik terendah baru, menembus angka 1,81 juta per dolar AS pada Rabu siang, setelah serangkaian aksi blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat. Penurunan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak sejak awal bulan April, dan menandai lonjakan nilai tukar yang signifikan dibandingkan kisaran 1,54 juta pada awal pekan serta 811 ribu pada periode yang sama tahun lalu.

Angkatan Laut AS menempatkan tiga kapal induk di perairan strategis dekat Selat Hormuz, sekaligus menambah pasukan dan peralatan militer untuk memperkuat blokade. Langkah ini secara langsung memotong jalur ekspor minyak Iran yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama negara. Pemerintah Tehran melaporkan penurunan drastis dalam penerimaan minyak, sementara kapal tanker Iran kini harus menghindari pengejaran hingga Samudra Hindia, mengakibatkan gangguan logistik yang parah.

Baca juga:

Menanggapi tekanan tersebut, pejabat Iran mengumumkan kebijakan darurat. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar US$1 miliar dari kekayaan negara untuk membeli bahan pangan dan menurunkan harga melalui nilai tukar preferensial bersubsidi. Selain itu, Iran berupaya memberdayakan provinsi perbatasan agar dapat mengimpor kebutuhan pokok secara mandiri, sambil memotong birokrasi yang menghambat distribusi. Upaya ini diharapkan dapat menstabilkan pasar domestik meski menghadapi inflasi yang melaju tak terkendali.

Inflasi yang terus meningkat memperburuk daya beli masyarakat. Harga barang impor—termasuk makanan, obat-obatan, dan elektronik—semakin melambung karena nilai tukar rial yang lemah. Data perdagangan non‑minyak menunjukkan penurunan total nilai transaksi menjadi sekitar US$110 miliar pada akhir Maret, turun 16 persen dari tahun sebelumnya, dan volume perdagangan turun 29 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Penurunan ini mencerminkan gangguan signifikan pada rantai pasokan yang melewati Selat Hormuz.

Baca juga:

Di dalam negeri, dampak ekonomi terasa keras. Lebih dari satu juta orang kehilangan pekerjaan, sementara harga pangan melonjak tajam. Ketua Parlemen Mohammad Reza Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur meski menghadapi blokade, menyatakan kesiapan untuk melawan aksi angkatan laut AS di perairan selatan. Pemerintah juga menolak tawaran Amerika untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai syarat pencabutan blokade, menilai langkah tersebut tidak akan mengurangi tekanan secara substansial.

Pengamat internasional mengingatkan bahwa penurunan rial dapat memicu spiral inflasi yang lebih dalam. Karena banyak barang penting di Iran diimpor, nilai tukar yang melemah langsung meningkatkan biaya hidup. Washington Post menyoroti risiko tersebut dan menilai bahwa blokade AS tidak hanya memotong pendapatan minyak, tetapi juga menambah beban fiskal negara. Sementara itu, analis di The Wall Street Journal mencatat bahwa strategi lama Tehran—menyembunyikan pengiriman minyak melalui kapal bayangan—sudah tidak lagi efektif di bawah tekanan militer Amerika.

Baca juga:

Ke depan, Iran berupaya mencari alternatif jalur perdagangan, termasuk mengirim minyak melalui jalur darat ke China dan mengimpor bahan pangan lewat rute Kaukasus serta Pakistan. Namun, hanya sekitar 40 persen perdagangan dapat dialihkan dari pelabuhan yang diblokade. Pemerintah tetap berharap pada negosiasi diplomatik, meski terdapat perpecahan internal antara kelompok moderat yang mengusulkan dialog dengan Presiden AS Donald Trump dan faksi keras yang menolak kompromi. Pada akhirnya, ketahanan ekonomi Iran akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan negara mengelola krisis mata uang dan menemukan sumber pendapatan alternatif di tengah blokade yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *