Rupiah Capai Rekor Terlemah Baru, Potensi Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah kembali mencatat pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Kurs Garuda ditutup pada level Rp 17.394 per dolar AS, menandai rekor terlemah baru yang mendekati ambang psikologis Rp 17.500. Penurunan ini dipicu oleh gabungan faktor domestik dan internasional, termasuk kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, ketegangan geopolitik, serta ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah melemah 57 poin atau sekitar 0,33 persen dalam sesi tersebut. Meskipun neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 19 bulan berturut‑turut, pasar memberi perhatian lebih pada data PMI manufaktur yang berada di bawah level 50. Angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi aktivitas produksi, yang pada gilirannya menurunkan permintaan mata uang domestik.

Baca juga:

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa kontraksi PMI mencerminkan dampak langsung dari kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak terus naik setelah serangan drone Ukraina menarget kilang minyak Rusia serta ketegangan yang belum reda di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya impor barang dan menambah tekanan inflasi, sehingga memperlemah daya beli rupiah.

Faktor eksternal lainnya turut memperburuk situasi. Federal Reserve diperkirakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Mei jika harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel. Penguatan dolar AS sebagai akibat kebijakan moneter yang lebih ketat memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca juga:
  • PMI Manufaktur: Kontraksi di bawah 50 menurunkan kepercayaan investor.
  • Harga Minyak: Kenaikan disebabkan oleh konflik Ukraina‑Rusia dan ketegangan di Timur Tengah.
  • Kebijakan Fed: Potensi hike suku bunga memperkuat dolar AS.
  • Sentimen Geopolitik: Risiko perang di Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar.

Analisis proyeksi menunjukkan bahwa rupiah dapat bergerak dalam kisaran Rp 17.390 hingga Rp 17.440 pada perdagangan Selasa, dengan kemungkinan menembus batas psikologis Rp 17.500 jika tekanan eksternal tetap berlanjut. Para pelaku pasar diharapkan akan memantau data ekonomi lanjutan, termasuk inflasi domestik dan kebijakan moneter Bank Indonesia, sebagai indikator penstabilan nilai tukar.

Di sisi positif, surplus neraca perdagangan yang konsisten tetap menjadi penopang fundamental ekonomi. Namun, tekanan dari sisi permintaan domestik yang melambat dan biaya impor yang meningkat dapat menurunkan manfaat dari surplus tersebut. Oleh karena itu, kebijakan fiskal dan moneter yang koordinatif menjadi kunci untuk menahan laju depresiasi rupiah.

Baca juga:

Secara keseluruhan, kombinasi faktor domestik yang lemah, dinamika geopolitik global, serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi rupiah. Pemerintah dan otoritas moneter perlu memperkuat cadangan devisa serta menjaga stabilitas inflasi guna mengurangi volatilitas nilai tukar.

Dengan kondisi pasar yang masih rawan, investor disarankan untuk tetap berhati‑hati dan mengikuti perkembangan data ekonomi serta keputusan kebijakan internasional yang dapat mempengaruhi pergerakan rupiah di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *