<pNilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan telah bergerak menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pelaku pasar bahwa rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal dan domestik terus berlanjut.
PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 Mei 2026 |
Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sujito, pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Kelompok kelas menengah menjadi salah satu pihak paling cepat merasakan tekanan karena kenaikan biaya hidup membuat rumah tangga harus menghitung ulang pengeluaran.
Rencana hidup yang sebelumnya telah disusun, seperti pendidikan, konsumsi, investasi, hingga kebutuhan sekunder, ikut terdampak oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Masyarakat mulai mengurangi pengeluaran non-primer demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Kondisi ini juga menimbulkan rasa tidak aman karena cadangan ekonomi masyarakat ikut menurun nilainya.
Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi global yang turut memengaruhi kondisi domestik. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai ikut berdampak terhadap harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dapat mendorong naiknya berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri.
Situasi tersebut membuat negara menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat. Menurut Arie, dampak jangka pendek dari gejolak global paling cepat dirasakan kelas menengah dan masyarakat bawah. Tekanan ekonomi dapat berkembang menjadi persoalan sosial apabila masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga berdampak pada industri otomotif dalam negeri. CEO Alva, Purbaya Yudha, menegaskan bahwa pihaknya memilih untuk bersikap realistis dan fokus pada hal-hal yang berada di dalam kendali internal perusahaan. Purbaya menambahkan bahwa kestabilan nilai tukar Rupiah sangat diharapkan oleh pelaku industri guna menjaga daya serap pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Kendati dihadapkan pada tantangan kurs, Alva tetap optimistis adopsi motor listrik di Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Dinamika geopolitik global dan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) fosil, diproyeksi akan menjadi momentum bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan.
Apalagi, dalam beberapa skema penggunaan harian, operasional motor listrik diklaim sudah terbukti jauh lebih efisien dibandingkan motor konvensional. "Untuk beberapa use case, pemakaian motor listrik itu memang ternyata lebih affordable dibandingkan dengan pemakaian bensin. Dan ini seharusnya juga sudah dirasakan oleh masyarakat secara luas," ucap Purbaya.
Pelemahan rupiah juga berdampak pada penjualan hewan kurban menjelang Iduladha. Namun, pedagang hewan kurban di Depok, Jawa Barat, Pepeng, mengaku penjualan tahun ini masih berjalan lancar. Menurutnya, permintaan hewan kurban didominasi oleh Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) yang menggalang dana masyarakat untuk pelaksanaan kurban bersama.
"Alhamdulillah penjualan masih lancar. Bahkan dibanding tahun 2025 sekarang cenderung lebih ramai," kata Pepeng. Ia menilai ibadah kurban memiliki nilai spiritual yang membuat masyarakat tetap berusaha membeli hewan kurban meski kondisi ekonomi sedang berat.
"Kalau urusan kurban itu beda. Ini kaitannya sama akhirat. Jadi orang tetap usahain walaupun kondisi ekonomi lagi susah," ujarnya. Menurut dia, banyak masyarakat telah menjadikan kurban sebagai agenda rutin tahunan yang sulit ditinggalkan.
Kondisi tersebut membuat permintaan sapi dan kambing relatif terjaga meski harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan. Pepeng mengatakan pembeli dari kalangan DKM menjadi penopang utama penjualan setiap tahun. Biasanya pengurus masjid sudah mulai menghimpun iuran warga jauh sebelum Iduladha tiba sehingga dana kurban lebih siap dan tidak terlalu terdampak gejolak ekonomi jangka pendek.
Kesimpulan, pelemahan rupiah memiliki dampak yang luas pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga penurunan daya beli. Namun, di tengah tantangan tersebut, masih ada peluang bagi industri dalam negeri untuk berkembang, terutama di sektor otomotif dan kurban.
