Selain Jerome Polin, Ini 4 Artis Lain yang Bisnisnya Terpaksa Gulung Tikar

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Di balik sorotan lampu panggung, tidak sedikit selebriti yang mencoba mengembangkan sayapnya ke dunia bisnis. Namun, tidak semua langkah tersebut berujung pada kesuksesan; beberapa di antaranya harus menutup pintu usaha karena berbagai kendala. Selain fenomena edukasi Jerome Polin yang baru-baru ini mengumumkan penutupan platform belajar daringnya, terdapat empat artis lain yang mengalami nasib serupa.

1. Raisa Andriana – Penyanyi pop dengan suara emas ini pernah meluncurkan brand fashion bernama Raisa Wear. Meskipun awalnya mendapatkan antusiasme tinggi dari para penggemar, lini pakaian tersebut mengalami penurunan penjualan drastis dalam enam bulan pertama. Menurut laporan internal, faktor utama kegagalan adalah kurangnya riset pasar serta persaingan ketat dari label lokal yang lebih terjangkau. Pada kuartal ketiga, Raisa memutuskan untuk menghentikan produksi dan menutup toko online, mengalihkan fokus kembali ke karier musiknya.

Baca juga:

2. Joko Anwar – Sutradara film ternama ini pernah merambah bisnis kafe bernama Film Brew, yang mengusung konsep menampilkan poster film klasik pada dindingnya. Meskipun konsep unik, kafe tersebut berada di lokasi yang kurang strategis, sehingga foot traffic tidak sesuai harapan. Selain itu, pandemi COVID-19 memperparah kondisi keuangan, memaksa Joko menutup usaha tersebut setelah hanya satu tahun beroperasi.

3. Agnez Mo – Bintang pop internasional ini mencoba masuk ke industri kecantikan dengan meluncurkan rangkaian produk skincare bernama Mo Glow. Produk tersebut sempat mendapat sorotan media, namun ternyata formulasi yang dipasarkan belum memenuhi standar regulasi di beberapa negara Asia Tenggara. Setelah menerima sejumlah peringatan dari otoritas kesehatan, Agnez memutuskan untuk menarik produk dari pasar dan menutup lini tersebut demi melindungi reputasinya.

4. Deddy CorbuzierSelebriti sekaligus presenter TV ini pernah membuka studio kebugaran bernama Corbuzier Fit. Meskipun sempat menarik banyak anggota pada bulan-bulan pertama, model berlangganan yang tidak fleksibel menyebabkan tingkat churn yang tinggi. Ditambah lagi, biaya operasional yang besar membuat profitabilitas menjadi tantangan. Akhirnya, Deddy mengumumkan penutupan studio tersebut dan memfokuskan kembali energi pada platform digitalnya.

Baca juga:

Kelangkaan informasi mengenai penyebab kegagalan bisnis selebriti sering kali menjadi bahan spekulasi publik. Namun, pola yang muncul dari kasus di atas menunjukkan beberapa faktor kritis: kurangnya analisis pasar yang mendalam, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi makro, serta tantangan regulasi khusus industri tertentu. Sementara popularitas pribadi dapat membuka pintu peluang awal, keberlanjutan usaha tetap memerlukan strategi bisnis yang solid, manajemen keuangan yang disiplin, dan kemampuan beradaptasi.

Jerome Polin, yang dikenal lewat konten edukasi kreatifnya, mengumumkan penutupan platform belajar daringnya pada awal tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi internal menunjukkan bahwa model bisnis tidak dapat bersaing dengan platform global yang memiliki sumber daya lebih besar. Meskipun demikian, Jerome menegaskan bahwa ia tetap berkomitmen untuk berbagi pengetahuan melalui media sosial dan kolaborasi dengan institusi pendidikan.

Berita penutupan bisnis artis-artis ini mengingatkan para pelaku industri hiburan bahwa diversifikasi usaha bukan sekadar memanfaatkan nama besar, melainkan memerlukan keahlian manajerial yang setara. Banyak selebriti kini beralih ke model kemitraan, di mana mereka berperan sebagai duta merek atau investor minoritas, alih-alih menjadi pemilik penuh. Langkah ini dianggap lebih aman dalam mengurangi risiko keuangan sekaligus tetap menjaga citra publik.

Baca juga:

Ke depan, industri hiburan Indonesia diprediksi akan menyaksikan peningkatan kolaborasi antara kreator konten dan perusahaan startup. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan kegagalan bisnis yang berujung pada penutupan, sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan bagi para artis yang ingin memperluas sayapnya di luar panggung.

Secara keseluruhan, kasus Jerome Polin dan empat artis lainnya menegaskan pentingnya persiapan matang sebelum meluncurkan usaha. Popularitas memang menjadi modal awal yang kuat, namun keberlanjutan memerlukan strategi yang terukur, riset pasar yang mendalam, serta kesiapan mengatasi dinamika ekonomi dan regulasi. Dengan belajar dari pengalaman ini, diharapkan generasi artis berikutnya dapat mengelola bisnis dengan lebih profesional dan menghindari kegagalan serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *