PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 12 Mei 2026 | Wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik telah menyebabkan kekhawatiran global. Hantavirus sendiri bukanlah penyakit baru, karena telah dikenal sejak tahun 1976. Penyakit ini pertama kali diisolasi dan diidentifikasi secara resmi oleh Dr. Ho-Wang Lee, seorang ilmuwan asal Korea Selatan, dari paru-paru seekor tikus sawah (Apodemus agrarius).
Gejala penyakit yang disebabkan oleh hantavirus telah terdeteksi jauh sebelum tahun 1970-an. Selama Perang Korea (1951-1953), lebih dari 3.000 tentara PBB menderita demam berdarah disertai gangguan ginjal yang misterius. Penyakit ini awalnya dikenal sebagai Korean Hemorrhagic Fever. Meskipun para dokter saat itu tahu ada patogen yang menyerang, mereka belum bisa mengidentifikasi jenis virusnya hingga penemuan Dr. Lee dua dekade kemudian.
Hantavirus memiliki dua kategori besar berdasarkan wilayah dan gejala klinisnya: Hantavirus Dunia Lama (Old World) yang ditemukan di Asia dan Eropa, dan Hantavirus Dunia Baru (New World) yang ditemukan di Amerika. Hantavirus Dunia Lama biasanya menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal, sedangkan Hantavirus Dunia Baru menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dengan tingkat fatalitas mencapai 50 persen.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah mendeteksi 23 kasus positif Hantavirus di sembilan provinsi, dengan tiga pasien meninggal dunia. Kasus Hantavirus di Indonesia telah ditemukan sejak 1991, dan termasuk tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, menyampaikan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS.
DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, dengan enam kasus di masing-masing daerah. Jawa Barat juga menjadi salah satu provinsi dengan kasus terbanyak, dengan lima kasus. Kemenkes memantau situasi dan melakukan upaya pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit ini.
Hantavirus dapat ditularkan melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, baik melalui luka terbuka maupun partikel udara yang terkontaminasi kotoran dan urine (aerosol). Risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan populasi tikus tinggi, area banjir, serta aktivitas luar ruang seperti berkemah.
Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi. Dengan demikian, kita dapat mengurangi risiko penyebaran hantavirus dan menjaga kesehatan masyarakat.
Kesimpulan, hantavirus bukanlah penyakit baru, tetapi telah dikenal sejak lama. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, dan risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan populasi tikus tinggi. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi.
