PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 09 Juli 2026 | Kalender Jawa masih menjadi pedoman penting bagi masyarakat, terutama untuk menentukan hari baik, merencanakan acara penting, hingga memahami karakter seseorang melalui weton. Dalam kalender Jawa, setiap hari tidak hanya dihitung berdasarkan sistem Masehi, tetapi menggunakan lima siklus pasaran, yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.
Kombinasi antara hari dan pasaran disebut weton, yang dipercaya memiliki makna khusus dalam kehidupan masyarakat Jawa. Masyarakat mempercayai perhitungan weton dan pasaran Jawa untuk menentukan hari baik untuk pernikahan, pindah rumah, hingga acara adat lainnya.
Perlu diketahui, hari pasaran dan biasa berjalan beriringan dalam kalender Jawa. Total, ada 35 weton, seperti Jumat Kliwon, Rabu Legi, Sabtu Pahing, Senin Pon, dan Selasa Wage. Dalam Kalender Jawa, setiap hari tidak hanya dihitung berdasarkan sistem Masehi, tetapi menggunakan lima siklus pasaran.
Neptu adalah besaran nilai yang dimiliki satuan waktu Jawa, meliputi hari biasa, hari pasaran, bulan, dan tahun. Nilai neptu pasaran terdiri dari Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Orang yang lahir pada hari tertentu dengan pasaran tertentu memiliki perencanaan yang matang sebelum bertindak.
Mereka merenungkan segala kemungkinan hingga mendapat hasil yang memuaskan. Mereka yang memiliki weton tertentu dikenal tidak suka mencampuri urusan orang lain. Tipe orang yang fokus dengan dirinya sendiri, dan tidak mengusik. Kalender Jawa juga digunakan untuk menentukan hari pertama masuk sekolah di Jawa Timur.
Berdasarkan Kalender Pendidikan Jawa Timur Tahun Ajaran 2026/2027, kegiatan belajar mengajar resmi dimulai pada Senin, 13 Juli 2026. Bersamaan dengan itu, seluruh peserta didik baru jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pelaksanaan MPLS dilakukan secara edukatif, menyenangkan, dan bebas dari praktik perpeloncoan. Kalender Jawa masih menjadi pedoman penting bagi masyarakat, terutama untuk menentukan hari baik, merencanakan acara penting, hingga memahami karakter seseorang melalui weton.
Kalender Jawa mencatat dua fase penting, yaitu Suro dan Sapar. Secara sistem, kalender Jawa lebih mirip kalender Hijriah dibandingkan Masehi karena sama-sama menggunakan perhitungan lunar (qamariyah). Bedanya, dalam kalender Jawa, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam (bakda magrib), bukan tengah malam seperti pada kalender Masehi.
Dalam Kalender Jawa, setiap hari tidak hanya dihitung berdasarkan sistem Masehi, tetapi menggunakan lima siklus pasaran. Kombinasi antara hari dan pasaran disebut weton, yang dipercaya memiliki makna khusus dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Masyarakat mempercayai perhitungan weton dan pasaran Jawa untuk menentukan hari baik untuk pernikahan, pindah rumah, hingga acara adat lainnya. Kalender Jawa juga digunakan untuk menentukan hari pertama masuk sekolah di Jawa Timur.
Perlu diketahui, waktu pergantian hari kalender Jawa berbeda dengan kalender Masehi. Kalender Jawa berganti hari saat Matahari terbenam, persis tanggalan Hijriah. Oleh karena itu, terhitung sejak maghrib pada Kamis, 9 Juli 2026, Jumat dimulai.
Otomatis, pasarannya juga mengikuti pasaran Jumat, 10 Juli 2026. Seperti sudah disebut di atas, weton adalah gabungan hari biasa dan hari pasaran. Bagi orang Jawa, weton sudah seperti pedoman hidup karena dipergunakan untuk mencari hari baik memulai usaha, menentukan tanggal pernikahan, hingga mengecek kecocokan calon suami istri.
Pengaplikasian weton tidak mungkin dilepaskan dari neptu. Neptu adalah besaran nilai yang dimiliki satuan waktu Jawa, meliputi hari biasa, hari pasaran, bulan, dan tahun. Nilai neptu pasaran terdiri dari Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.
Kesimpulan, kalender Jawa masih menjadi pedoman penting bagi masyarakat, terutama untuk menentukan hari baik, merencanakan acara penting, hingga memahami karakter seseorang melalui weton. Dalam kalender Jawa, setiap hari tidak hanya dihitung berdasarkan sistem Masehi, tetapi menggunakan lima siklus pasaran.
