PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 26 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menandai langkah penting dalam upaya memperluas akses pendidikan dengan meluncurkan program sekolah gratis Jakarta. Dalam program ini, sebanyak 103 sekolah swasta di lima wilayah administratif kota menerima total alokasi anggaran sebesar Rp 253.625.139.600. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya pendidikan bagi keluarga kurang mampu serta meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di ibu kota.
Program sekolah gratis Jakarta dibagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama terdiri dari 40 sekolah yang menjadi penerima lanjutan, masing‑masing mendapatkan dana selama 12 bulan penuh, mulai Januari hingga Desember 2026. Kelompok kedua mencakup 63 sekolah baru yang memperoleh pendanaan selama enam bulan, yakni dari Juli hingga Desember 2026. Kedua kelompok tersebut mencakup jenjang SD, SMP, SMA/SMK, bahkan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
- 40 sekolah penerima lanjutan – pendanaan 12 bulan (Januari‑Desember 2026)
- 63 sekolah penerima baru – pendanaan 6 bulan (Juli‑Desember 2026)
- Jenjang: SD, SMP, SMA/SMK, SLB
- Wilayah: 5 kota administrasi Jakarta
Dalam sambutan tertulisnya, Pramono menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud kesungguhan Pemerintah Provinsi DKI untuk memastikan setiap anak Jakarta mendapatkan pendidikan yang layak, terlepas dari latar belakang ekonomi keluarga. “Jakarta secara sungguh‑sungguh mulai mengalokasikan anggaran untuk sekolah gratis Jakarta. Mudah‑mudah, apa yang dilakukan Pemprov DKI dapat memutus rantai ketidakberuntungan dalam keluarga kurang mampu,” ujarnya.
Selain program utama, pemerintah provinsi juga berkomitmen untuk melanjutkan berbagai bantuan pendidikan lainnya. Program Kartu Jakarta Pintar (KJP) tetap berjalan, memberikan bantuan tunai untuk biaya pendidikan dasar. Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) juga tetap tersedia bagi mahasiswa berprestasi. Selain itu, program pemutihan ijazah terus diupayakan agar lulusan yang pernah terhambat dapat memperoleh ijazah resmi.
Para kepala sekolah yang menjadi bagian dari program menyatakan rasa syukur dan optimisme. Mereka berharap dana yang disalurkan dapat menutupi biaya operasional, pembelian buku, serta peningkatan fasilitas belajar mengajar. “Dengan dukungan ini, kami dapat menurunkan biaya spp bagi siswa berpenghasilan rendah dan meningkatkan kualitas pembelajaran,” kata salah satu kepala sekolah di Jakarta Selatan.
Analisis kebijakan ini menunjukkan dampak positif yang luas. Pertama, beban biaya pendidikan berkurang secara signifikan bagi keluarga berpenghasilan rendah, sehingga tingkat putus sekolah diperkirakan menurun. Kedua, peningkatan dana operasional memungkinkan sekolah swasta untuk meningkatkan kompetensi guru dan memperbaiki sarana belajar. Ketiga, penyediaan pendidikan inklusif melalui SLB menegaskan komitmen Pemerintah DKI dalam menjangkau anak berkebutuhan khusus.
Program sekolah gratis Jakarta juga sejalan dengan agenda nasional untuk memperkuat kualitas pendidikan dasar dan menengah. Dengan alokasi anggaran yang cukup besar, DKI Jakarta menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengintegrasikan sektor swasta ke dalam upaya pemerataan pendidikan. Diharapkan, keberhasilan inisiatif ini akan mendorong replikasi kebijakan serupa di wilayah lain.
Secara keseluruhan, program ini menandai era baru bagi pendidikan di ibu kota. Diharapkan tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menumbuhkan budaya kepedulian bersama terhadap generasi muda. Pramono menutup dengan harapan bahwa kebijakan ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi Jakarta yang lebih unggul, mandiri, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
