Tekad Kuat Penjual Rujak Cirebon: Menabung Rp50 Ribu Sehari hingga Naik Haji

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Machmudah, seorang wanita berusia 62 tahun dari Desa Marikangen, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, berhasil mewujudkan impian seumur hidupnya—naik haji—setelah menabung secara disiplin dari hasil berjualan rujak ulek. Kisahnya menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan keikhlasan dapat mengatasi keterbatasan ekonomi.

Setiap pagi, jauh sebelum matahari terbit, Machmudah melaksanakan sholat berjamaah di masjid terdekat. Sesudahnya, ia menyiapkan peralatan dan bahan baku untuk menjual rujak serta nasi sebagai menu sarapan bagi warga sekitar. Proses mengulek bumbu rujak dimulai sekitar pukul delapan, dan ia terus melayani pelanggan hingga sore hari. Bagi Machmudah, berjualan bukan sekadar mencari nafkah, melainkan cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. “Kalau orang duduk manis, cepat dipanggil Allah karena sakit-sakitan. Kalau jualan kan sehat, pikiran normal, dan uangnya ada,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga:

Tekadnya untuk menunaikan ibadah haji berawal sejak 2013, ketika ia pertama kali mendaftar di biro travel haji. Namun, biaya perjalanan yang masih tinggi memaksa Machmudah mencari cara agar dapat menutup seluruh biaya. Ia kemudian memanfaatkan sistem arisan dengan menyisihkan sekitar Rp300.000 setiap minggu, serta menabung secara harian sekitar Rp50.000. “Dulu ikut arisan, seminggu Rp300.000. Kalau harian, biasanya saya usahakan nabung sekitar Rp50.000 buat haji,” katanya dalam percakapan hangat pada Selasa (14/4/2026). Meskipun pemasukan harian tidak selalu stabil, ia tetap konsisten menabung apa pun sisa uang yang dimilikinya.

Selama bertahun-tahun, Machmudah menabung dengan tekun, mengelola tabungannya melalui catatan sederhana dan koperasi lokal. Ia menambah tabungan dengan menjual rujak di pasar tradisional, di pinggir jalan, dan pada acara-acara komunitas. Usaha kecilnya ternyata memberikan dampak signifikan: total tabungan mencapai ratusan juta rupiah, cukup untuk menutupi tiket, akomodasi, serta perlengkapan ibadah haji.

Pada awal Mei 2026, pihak travel menghubungi Machmudah bahwa semua persyaratan administratif telah lengkap dan ia dijadwalkan berangkat pada 19 Mei mendatang. Persiapan tidak hanya terbatas pada aspek finansial; ia pun memperkuat kondisi fisik dengan rutin berjalan kaki, mengonsumsi makanan bergizi, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Di sisi spiritual, Machmudah meningkatkan ibadah dengan melantunkan istighfar dan selawat sebanyak 1.000 kali setiap hari, baik saat duduk maupun sambil mengulek bumbu rujak.

Baca juga:

Keluarga dan tetangga menyambut kabar bahagia tersebut dengan penuh kebanggaan. Mereka membantu menyiapkan perlengkapan haji, seperti pakaian ihram, obat-obatan, dan buku panduan ibadah. Bahkan, beberapa warga setempat mengorganisir acara makan bersama sebagai bentuk dukungan moral kepada Machmudah.

Kisah Machmudah tidak hanya menjadi inspirasi bagi sesama pedagang, tetapi juga menjadi contoh bagi generasi muda yang seringkali merasa terhalang oleh keterbatasan ekonomi. Ia membuktikan bahwa dengan disiplin menabung, kerja keras, dan keyakinan yang kuat, impian yang tampak jauh dapat dicapai. Selain itu, cerita ini menyoroti pentingnya peran komunitas lokal dalam membantu warganya meraih tujuan spiritual.

Menjelang keberangkatan, Machmudah menyatakan rasa syukur yang mendalam. “Saya berdoa semoga perjalanan ini lancar, sampai kembali dengan selamat dan membawa berkah untuk keluarga serta orang-orang yang mendukung,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menegaskan bahwa ia akan terus berdoa bagi para peziarah lain dan berharap kisahnya dapat memotivasi lebih banyak orang untuk berikhtiar secara konsisten.

Baca juga:

Dengan keberangkatan yang semakin dekat, Machmudah mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang konsisten akan menghasilkan perubahan besar. Ia berharap bahwa cerita tentang rujak, tabungan harian, dan haji ini dapat menjadi bahan renungan bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang berjuang di sektor informal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *