PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Dalam laga semifinal pertama UEFA Champions League musim 2025-26, Alphonso Davies menjadi tokoh paling dibicarakan setelah insiden handball kontroversial yang memberikan penalti krusial bagi Paris Saint-Germain (PSG). Pertandingan antara PSG dan Bayern Munich di Parc des Princes berakhir dengan skor mengejutkan 5-4 untuk pihak Prancis, menambah drama pada duel klasik antara dua raksasa Eropa.
Alphonso Davies, bek sayap muda asal Kanada yang kini mengisi lini pertahanan Bayern, dimulai sebagai starter. Keputusan pelatih Vincent Kompany menurunkan pemain veteran Konrad Laimer dan menaruh kepercayaan pada Davies, yang beberapa minggu lalu hanya bermain 60 menit dalam kemenangan 4-3 atas Mainz. Namun, menit-menit akhir babak pertama mengubah persepsi publik.
Pada menit ke-38, Ousmane Dembélé mengirimkan umpan silang dari sisi kanan yang meluncur ke dalam kotak penalti Bayern. Davies berusaha menangkis bola dengan pahanya, namun secara tak sengaja bola kemudian menyentuh lengan kirinya. VAR segera meninjau kembali aksi tersebut, dan wasit Sandro Schärer memutuskan untuk memberikan penalti kepada PSG setelah meninjau ulang insiden.
Keputusan ini memicu perdebatan sengit di antara pengamat dan mantan pemain. Beberapa menilai bahwa tindakan tangan Davies tidak disengaja dan seharusnya tidak mengakibatkan penalti, mengingat aturan handball memperbolehkan penalti hanya bila bola langsung diarahkan ke lengan dengan gerakan yang tidak wajar. Namun, penjelasan resmi VAR menegaskan bahwa posisi lengan Davies dianggap tidak alami pada saat kontak, sehingga penalti sah diberikan.
Penalti tersebut dieksekusi oleh Kylian Mbappé, yang berhasil menambah keunggulan PSG menjadi 3-2 menjelang jeda. PSG kemudian menambah satu gol lagi lewat Lionel Messi, sementara Bayern berusaha mengejar dengan gol cepat dari Thomas Müller. Namun, serangan balik PSG yang dipimpin oleh Neymar dan Angel Di Maria menutup babak pertama dengan skor 5-4.
Insiden ini tidak hanya memengaruhi hasil pertandingan, tetapi juga menimbulkan konsekuensi bagi Bayern. Karena Kompany menerima skorsing satu pertandingan akibat insiden sebelumnya, ia tidak berada di pinggir lapangan saat timnya kembali melawan PSG di laga balik. Hal ini menambah beban taktis bagi Bayern yang harus menyesuaikan formasi tanpa sang kapten.
Reaksi pemain dan pelatih pun beragam. Luis Enrique, manajer PSG, menyatakan kepuasannya atas keputusan VAR yang “menegakkan keadilan” dan memuji kesiapan mental timnya. Di sisi lain, pemain Bayern, termasuk Jamal Musiala, mengkritik ketatnya interpretasi aturan handball dan menilai keputusan tersebut mengubah dinamika pertandingan secara drastis.
Di luar lapangan, mantan striker Inggris Alan Shearer mengungkapkan kemarahannya lewat media sosial, menyebut keputusan penalti tersebut “nonsense” dan menilai bahwa wasit terlalu cepat mengabulkan pelanggaran. Meskipun komentar Shearer tidak langsung terkait dengan insiden Davies, ia menambah tekanan publik pada otoritas sepak bola untuk meninjau kembali prosedur VAR.
Dengan hasil 5-4 di babak pertama, PSG kini memimpin dengan keunggulan tipis namun penting menjelang leg kedua. Bayern harus mencari cara untuk menutup selisih tersebut, terutama mengingat absennya Kompany dan potensi kebingungan taktik setelah skorsing. Davies, meskipun menjadi sorotan negatif, tetap memiliki peluang untuk bangkit dan memperbaiki reputasinya di laga berikutnya.
Semifinal ini menegaskan betapa keputusan teknis seperti handball dapat menentukan nasib tim dalam kompetisi elit. Kedua klub kini menatap leg kedua dengan strategi berbeda: PSG berusaha mempertahankan keunggulan, sementara Bayern harus menata kembali lini pertahanan dan mengoptimalkan kreativitas serangannya.
