PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | Atlet para powerlifting asal Bali, Ni Nengah Widiasih, menepis stigma lama bahwa masa depan atlet tak menjanjikan. Dengan menerima bonus prestasi dari pemerintah, ia mengalihkan sebagian dana tersebut untuk memulai usaha kuliner yang kini menjadi tonggak penting dalam persiapan masa pensiun dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Bonus pemerintah tidak sekadar simbol apresiasi, melainkan modal nyata yang dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi pendapatan. Ni Nengah menjelaskan bahwa dukungan finansial ini memberinya ruang berpikir lebih jauh daripada sekadar kompetisi. Ia menekankan, “Bonus bukan hanya hadiah, melainkan investasi untuk masa depan saya dan keluarga.”
- Medali perunggu Paralimpiade Rio 2016
- Medali perak Paralimpiade Tokyo 2020
- Finis kelima Paralimpiade Paris 2024
Pada 17 Februari 2026, Ni Nengah resmi membuka rumah makan Babi Guling Balah Men Bingin di kawasan Kesiman, Denpasar. Nama “Men Bingin” diambil dari nama belakang almarhum ibunya sebagai bentuk penghormatan. Restoran ini menyajikan babi guling khas Bali dengan resep turun-temurun, dipersiapkan langsung oleh ayahnya yang dikenal piawai mengolah hidangan tradisional.
Latar belakang keluarga yang gemar memasak menjadi faktor utama keputusan Ni Nengah. Setelah kehilangan sang ibu, ia merasa perlu memberikan ayahnya kegiatan yang bermakna serta melestarikan warisan kuliner keluarga. “Keluarga kami memang jago masak, terutama bapak. Jadi kenapa tidak kita kembangkan?” ujar Ni Nengah.
Pencarian lokasi usaha sempat menjadi tantangan. Sejak akhir 2024, timnya aktif mencari tempat yang strategis, namun banyak yang tidak cocok. Pada akhir 2025, ketika Ni Nengah hampir menyerah, informasi tentang lokasi di Kesiman tiba-tiba muncul dan langsung dirasa cocok. “Saya sempat bilang tidak usah cari lagi. Kalau memang rezeki pasti datang,” katanya.
Bergerak di dunia kuliner membawa Ni Nengah pada realitas yang berbeda dengan dunia olahraga atau investasi properti yang sebelumnya ia kenal. Ia menyadari kompleksitas operasional restoran, mulai dari pengadaan bahan baku, manajemen tenaga kerja, hingga kontrol kualitas rasa. “Di balik satu hidangan ada banyak proses dan orang yang terlibat,” ujarnya, menekankan pentingnya kerja sama tim.
Usaha ini tidak sekadar menjadi sumber penghasilan tambahan, melainkan juga platform penciptaan lapangan kerja bagi warga sekitar. Ni Nengah berkomitmen untuk mempekerjakan beberapa orang lokal, dengan harapan dampak ekonomi dapat dirasakan secara luas. “Saya tidak mau sukses sendirian. Kalau kita diberi rezeki lebih, jangan disimpan sendiri,” tegasnya.
Ke depan, Ni Nengah berencana mengembangkan jaringan restoran serupa di kota-kota lain di Bali, sekaligus memperkenalkan menu khas Bali ke pasar nasional. Ia juga ingin mengintegrasikan program pelatihan kuliner bagi penyandang disabilitas, mengingat latar belakangnya sebagai atlet paralimpiade. Dengan langkah ini, ia berharap kesuksesan yang diraih tidak hanya menguntungkan dirinya, tetapi juga memberi manfaat bagi komunitas.
Dengan menggabungkan prestasi olahraga dan semangat wirausaha, Ni Nengah Widiasih menunjukkan bahwa dukungan pemerintah dapat menjadi katalisator perubahan positif. Usaha kuliner Babi Guling Balah Men Bingin kini menjadi bukti konkret bahwa atlet dapat menyiapkan masa depan yang mandiri, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
