PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 April 2026 | Seorang pemain muda Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, menjadi sorotan publik setelah melancarkan tendangan keras yang menyerupai gerakan kungfu dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 melawan Dewa United U-20 pada 19 April 2026. Insiden tersebut terjadi di Stadion Citarum, Semarang, ketika ketegangan pertandingan memuncak dan Fadly Alberto melompat mengayunkan kaki tinggi mengarah ke tubuh pemain lawan, Rakha Nurkholis. Tendangan tersebut mengakibatkan luka pada wajah korban dan memicu keributan di lapangan.
Reaksi cepat datang dari otoritas sepak bola nasional. Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, menyatakan keputusan pencoretan Fadly Alberto dari skuad Timnas Indonesia U-19 bersifat otomatis setelah insiden tersebut. “Secara otomatis dicoret. Tidak ada ruang bagi tindakan yang mengancam sportivitas,” ujarnya dalam konferensi pers singkat. Di samping itu, Sekjen PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa kasus ini akan diproses oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI dengan sanksi berat, mengingat dampak negatif tindakan kekerasan pada kompetisi usia muda.
Di level klub, pelatih Timnas U-19, Nova Arianto, menegaskan bahwa Fadly Alberto tidak akan dipanggil untuk mengikuti Piala AFF U-19 2026 maupun Kualifikasi Piala Asia U-20 2027. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penegakan disiplin dan perlindungan integritas tim nasional. “Kami tidak dapat mengabaikan perilaku yang merusak nilai sportivitas,” kata Nova.
Sponsorship yang selama ini mendukung karier Fadly Alberto juga memutuskan hubungan. Perusahaan sponsor utama yang sebelumnya menandatangani kontrak endorsement dengan pemain muda tersebut menyatakan penghentian kerja sama secara resmi pada hari berikutnya setelah insiden. Pihak sponsor menilai bahwa tindakan Fadly Alberto tidak mencerminkan nilai-nilai merek yang ingin mereka promosikan, sehingga kerjasama diakhiri tanpa kompensasi lebih lanjut.
Akibat pencoretan dan penghentian sponsor, masa depan Fadly Alberto di dunia sepak bola menjadi sangat tidak pasti. Ia kehilangan peluang berpartisipasi di dua turnamen penting, sekaligus harus menanggung konsekuensi finansial dari putusnya endorsement. Selain itu, nama baiknya sebagai anggota Timnas Indonesia dan pemain Bhayangkara FC turut tercoreng, menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan kariernya ke depan.
Fadly Alberto kemudian mengeluarkan permohonan maaf publik melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, ia mengakui kesalahannya, menyatakan penyesalan mendalam, dan meminta maaf kepada Rakha Nurkholis, tim Dewa United, rekan-rekan Bhayangkara FC, serta seluruh penggemar sepak bola Indonesia. “Saya sangat menyesal atas tindakan bodoh saya yang mencoreng nama Timnas Indonesia,” ucapnya dengan nada serius.
Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di kalangan netizen, pelatih, dan pengamat sepak bola mengenai perlunya edukasi mental dan pengendalian emosi pada pemain muda. Beberapa pihak mengusulkan penambahan modul psikologi dalam program pembinaan usia dini, sementara yang lain menekankan pentingnya penegakan disiplin yang konsisten untuk memberi contoh bagi generasi selanjutnya.
- Pencoretan resmi dari Timnas Indonesia U-19.
- Penghentian kontrak sponsorship.
- Potensi sanksi disiplin berat dari PSSI, termasuk skorsing kompetisi.
- Kehilangan kesempatan berkompetisi di Piala AFF U-19 2026 dan Kualifikasi Piala Asia U-20 2027.
Secara keseluruhan, insiden tendangan kungfu yang dilakukan oleh Fadly Alberto tidak hanya merusak reputasinya secara individu, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana tindakan tidak sportif dapat berujung pada konsekuensi karier yang serius. Kejadian ini diharapkan menjadi pelajaran bagi semua pemain muda, pelatih, dan pihak terkait untuk menegakkan nilai sportivitas, kontrol emosi, dan integritas dalam kompetisi sepak bola usia junior.
