PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Gelandang Arsenal asal Spanyol, Martin Zubimendi, kini berada di bawah sorotan publik setelah sekian minggu penampilannya dinilai menurun drastis. Sejak bergabung dengan klub di London Utara pada jendela transfer musim panas dengan nilai mahar fantastis 56 juta poundsterling, harapan besar menumpuk pada pundaknya. Namun, statistik terbaru menunjukkan bahwa dalam sembilan laga terakhir Zubimendi belum mencatatkan satu gol maupun satu assist, menimbulkan kegelisahan di antara para pengamat dan pendukung.
Pendapat kritis tersebut datang langsung dari legenda sepak bola Inggris, Gary Neville, yang tak ragu mengutarakan kekecewaannya. Dalam sebuah podcast, Neville menilai Zubimendi belum mampu menjadi “pembeda” di lini tengah Arsenal. Ia mengibaratkan pemain tersebut dengan tokoh-tokoh legendaris seperti Andrea Pirlo, Paul Scholes, atau Rodri, yang mampu mengendalikan ritme permainan, mengatur tempo, serta menuntun tim menguasai bola. “Anda memikirkan seperti apa Pirlo, atau Scholes atau Rodri… pemain yang bisa mendikte permainan, membuat Arsenal menguasai bola, mengorganisir permainan, dan tampil dengan otoritas. Tapi dia tidak menunjukkan hal itu,” ujar Neville.
Selain kritik terhadap kurangnya kontribusi menyerang, Neville juga menyoroti kegagalan Zubimendi dalam mengontrol permainan. Menurutnya, gelandang muda ini belum menunjukkan konsistensi dalam mendistribusikan bola atau memecah lini pertahanan lawan. “Saya pikir pada awal musim bahwa Zubimendi adalah rekrutan yang hebat. Dia sudah menjadi pemain yang bagus untuk Arsenal, tetapi saat ini saya mengharapkan Zubimendi menjadi pembeda,” tambahnya.
Sementara itu, mantan pemain Arsenal, Martin Keown, memberikan pandangan yang lebih bersahabat. Keown menekankan pentingnya dukungan tim dan suporter untuk membantu Zubimendi kembali menemukan ritme permainan. Ia mengingatkan bahwa penurunan performa sesaat dapat terjadi pada siapa pun, apalagi di liga sekompetitif Premier League. “Saya rasa dia telah memainkan banyak pertandingan, ini adalah momen yang sulit baginya, tetapi pemain-pemain seperti inilah yang perlu Anda dukung,” kata Keown.
Statistik yang memicu perdebatan ini mencakup total menit bermain, jumlah tembakan ke arah gawang, serta kontribusi akhir dalam serangan. Dalam sembilan pertandingan terakhir, Zubimendi rata-rata menghabiskan lebih dari 70 menit per laga, namun tidak mencetak gol atau memberikan assist. Tingkat xG (expected goals) tim pada saat ia berada di lapangan menurun, mengindikasikan kurangnya ancaman serangan yang dihasilkan.
Arsenal saat ini berada di puncak klasemen Premier League, namun keunggulan mereka tipis. Dengan hanya tiga poin di atas Manchester City dan empat pertandingan tersisa, setiap hasil pertandingan menjadi krusial. Di samping kompetisi domestik, Mikel Arteta juga harus menyiapkan skuad untuk semifinal Liga Champions melawan Atletico Madrid, menambah beban pada pemain tengah yang sudah dipertanyakan kemampuan adaptasinya.
Pelatih Arteta sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai kritik Neville, namun dalam beberapa pertemuan tim ia menekankan pentingnya kerja keras dan konsistensi. Sementara itu, rekan satu lini seperti Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli terus menunjukkan performa impresif, menambah tekanan pada Zubimendi untuk segera mengisi celah yang ada.
Para pengamat tak hanya menilai dari sisi statistik, tetapi juga dari segi taktik. Neville berpendapat bahwa Arsenal terlalu mengandalkan pertahanan yang solid, namun kurang menampilkan ekspresi menyerang yang dinamis. Ia menyebutkan, “Mereka sangat bagus dalam bertahan dan bekerja keras. Tapi yang Anda inginkan adalah ekspresi, kebebasan di mana mereka bermain menyerang, berlari ke depan, dan melakukan sesuatu dengan kepastian lebih dalam serangan mereka. Hal itu sama sekali tidak terlihat hari itu.”
Dengan tekanan yang terus meningkat, Zubimendi berada pada persimpangan penting dalam kariernya. Dukungan dari rekan setim, kepercayaan pelatih, serta penyesuaian taktik menjadi kunci bagi sang gelandang untuk kembali bersinar. Jika ia dapat mengembalikan kemampuan mengatur tempo dan memberikan kontribusi akhir, Arsenal memiliki peluang kuat untuk meraih gelar Premier League dan bersaing di Liga Champions.
Kesimpulannya, kritik tajam Gary Neville menyoroti kebutuhan mendesak bagi Martin Zubimendi untuk meningkatkan performa di lini tengah, sementara pembelaan Martin Keown mengingatkan akan pentingnya dukungan kolektif. Perjalanan Arsenal menuju akhir musim kini bergantung pada kemampuan Zubimendi untuk mengatasi tantangan ini dan mengukir kontribusi signifikan bagi tim.
