Mario Kempes dan Sejarah Piala Dunia 1978: Antara Kemenangan dan Bayangan Rezim Videla

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 Juni 2026 | Piala Dunia 1978 adalah momen bersejarah bagi Argentina, tetapi di balik kemeriahan itu ada cerita penindasan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim junta militer pimpinan Presiden Jorge Rafael Videla.

Rezim Videla menggunakan sepak bola sebagai alat sportwashing untuk membersihkan reputasi kotor pemerintah dan menampilkan citra yang damai, stabil, serta modern di mata dunia.

Baca juga:

Salah satu fakta paling mengerikan dari Piala Dunia 1978 adalah keberadaan Escuela Mecanica de la Armada (ESMA), sebuah pusat penahanan dan penyiksaan rahasia terbesar rezim militer yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari Estadio Monumental, tempat pertandingan final digelar.

Ratusan tahanan politik disiksa di ESMA, dan beberapa penyintas bahkan mengaku bisa mendengar suara riuh stadion dari dalam sel bawah tanah mereka.

Langkah Argentina menuju final diwarnai salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia, yaitu kemenangan 6-0 atas Peru yang diduga sebagai hasil kesepakatan rahasia antara Jorge Videla dan Presiden Peru, Francisco Morales Bermudez.

Puncak dari campur tangan politik rezim junta militer terjadi pada laga final yang berlangsung pada 25 Juni 1978, di mana Jenderal Jorge Videla menyerahkan langsung trofi berlapis emas kepada kapten Argentina, Daniel Passarella.

Baca juga:

Foto Videla yang tersenyum lebar sambil memegang trofi bersama para pemain menjadi propaganda yang sempurna untuk rezim, tetapi faktanya, Sang Diktator menganggap sepak bola sebagai sesuatu yang membosankan dan jarang menonton pertandingan.

Kemenangan Piala Dunia 1978 dan bayangan rezim Videla menjadi simbol manipulasi politik yang akhirnya membawa kejatuhan bagi Sang Diktator.

Dalam beberapa tahun setelah Piala Dunia, Argentina mengalami krisis ekonomi dan kekalahan perang, yang akhirnya membawa rezim Videla runtuh pada 1983.

Mario Alberto Kempes, seorang pemain sepak bola legendaris Argentina, menjadi salah satu tokoh penting dalam Piala Dunia 1978.

Baca juga:

Ia mencetak gol kemenangan dalam pertandingan final dan menjadi simbol kemenangan Argentina.

Namun, di balik kemenangan itu, Kempes juga menjadi saksi bisu atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim junta militer.

Sejarah Piala Dunia 1978 dan rezim Videla menjadi peringatan bagi kita semua tentang bahaya manipulasi politik dan kejahatan kemanusiaan yang dapat terjadi dalam nama sepak bola atau olahraga lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *