PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | Sejak akhir pekan lalu, wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dilanda rangkaian cuaca ekstrem yang diproyeksikan akan berlanjut hingga 30 April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi serangkaian gangguan atmosfer, termasuk gelombang Rossby ekuator dan siklus Madden-Julian Oscillation (MJO), sebagai pemicu utama peningkatan intensitas curah hujan dan potensi gelombang laut tinggi.
Kepala Stasiun Meteorologi Mataram, Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), menyampaikan bahwa dinamika atmosfer kini berada pada fase yang sangat aktif, memicu pertumbuhan awan konvektif secara cepat. “Kami mengidentifikasi adanya perkembangan signifikan dalam dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan,” ujar ZAM dalam konferensi pers pada Senin (27/4/2026). Ia menambahkan bahwa daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah tersebut memperkuat pembentukan awan hujan skala lokal.
BMKG juga menyoroti tingginya kelembapan udara dari lapisan bawah hingga atas serta labilitas atmosfer yang kuat. Kombinasi faktor-faktor ini menghasilkan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan lebat meliputi hampir seluruh Pulau Lombok, Sumbawa, hingga Bima. Khususnya di bagian selatan Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan Bima, potensi hujan sangat lebat hingga sangat lebat diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir pekan.
Tak hanya hujan, BMKG memperingatkan potensi gelombang laut setinggi 2,5‑4 meter di perairan selatan NTB. Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, serta Samudra Hindia selatan NTB menjadi zona rawan. “Waspada potensi gelombang laut tinggi karena dapat mengganggu aktivitas pelayaran kapal,” tegas Satria Topan Primadi, juru bicara BMKG yang turut hadir pada briefing. Pihak berwenang meminta kapal nelayan dan transportasi laut untuk menyesuaikan rute serta meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, di wilayah lain seperti Magetan, Jawa Timur, pemerintah daerah juga mengeluarkan himbauan serupa. Dengan masa peralihan musim hujan ke kemarau, potensi hujan deras dan angin kencang tetap tinggi, menimbulkan risiko banjir, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur. Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama di daerah rawan longsor dan bantaran sungai.
Pentingnya pemahaman tentang fenomena iklim global juga ditekankan. El Niño dan La Niña, bagian dari siklus ENSO, secara tidak langsung memengaruhi intensitas cuaca ekstrem di Indonesia. Pada periode El Niño, suhu permukaan laut Pasifik timur menghangat, menyebabkan pergeseran pola hujan menjauh dari wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan. Sebaliknya, La Niña menurunkan suhu laut, memperkuat sirkulasi atmosfer dan meningkatkan curah hujan, yang dapat memperparah dampak banjir dan tanah longsor. Meskipun fenomena global ini tidak secara langsung menjadi penyebab cuaca ekstrem di NTB saat ini, mereka tetap menjadi faktor latar belakang yang memperkuat ketidakstabilan atmosfer.
BMKG menyerukan agar masyarakat tetap tenang namun waspada, mengikuti informasi resmi melalui saluran resmi, serta menyiapkan langkah antisipatif seperti mengevakuasi area rawan, mengamankan barang berharga, dan menyiapkan perlengkapan darurat. Koordinasi antara aparat keamanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta lembaga sosial diharapkan dapat memperlancar proses mitigasi dan memperkecil dampak kerugian.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor atmosferik lokal—Rossby, MJO, kelembapan tinggi, dan labilitas—bersama dengan kondisi laut yang tidak bersahabat menciptakan skenario cuaca ekstrem yang menuntut kesiapsiagaan maksimal di seluruh wilayah NTB dan daerah lain yang terdampak.
