PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 April 2026 | Seorang gadis berusia enam setengah tahun bernama Azizah Candrasari menjadi sorotan publik setelah video singkatnya yang memperlihatkan ia merawat ayahnya yang sakit sekaligus mengurus adiknya tersebar luas di media sosial. Azizah tinggal di kos sederhana di kompleks Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta bersama ayahnya, Hermanto (56), seorang pencari rongsokan yang menderita benjolan besar di kepala, dan adik laki‑lakinya yang baru berusia lima tahun.
Tanpa bantuan tenaga medis profesional, Azizah berusaha mengelola kebutuhan rumah tangga, memasak, mencuci, serta memberi obat kepada ayahnya yang hampir tak dapat bergerak. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan banyak netizen yang kemudian menandai foto‑video tersebut dengan tag #AzizahHero. Respon cepat datang dari pihak kepolisian. Ipda Ali Nur Suwandi, melalui akun @polisibaksos, segera menghubungi keluarga tersebut dan mengatur evakuasi mereka ke Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, sebuah lembaga yang menyediakan perlindungan, perawatan, serta lingkungan belajar bagi anak‑anak yang berada dalam situasi rentan.
Setelah tiba di yayasan, Azizah, ayahnya, dan adiknya mendapatkan fasilitas kesehatan dasar, pakaian bersih, serta tempat tinggal yang layak. Yayasan tersebut juga menyediakan program edukasi dan psikososial untuk membantu proses pemulihan mental anak‑anak seperti Azizah. Pengurus yayasan menyatakan bahwa kondisi ayah Azizah masih memerlukan perawatan lanjutan, namun dengan adanya dukungan medis, risiko komplikasi dapat diminimalisir.
Langkah cepat dan humanis ini tidak luput dari perhatian tokoh politik. Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, melalui timnya Ahmad Sahroni Center (ASC), mengumumkan bantuan dana sebesar Rp 50 juta yang akan langsung disalurkan ke yayasan. Selain uang tunai, tim ASC turut mengirimkan perlengkapan belajar, pakaian baru, alat tulis, buku, mainan, serta kebutuhan mandi bagi seluruh penghuni yayasan.
Berikut rincian bantuan yang diterima:
- Uang tunai Rp 50.000.000 untuk biaya perawatan medis ayah Azizah dan kebutuhan hidup sehari‑hari.
- Pakaian baru untuk Azizah, adiknya, dan beberapa anak lain di yayasan (sekitar 30 set).
- Alat tulis dan buku pelajaran untuk kelas belajar di yayasan (lebih dari 200 buah).
- Mainan edukatif dan perlengkapan mandi (sabun, sampo, sikat gigi) untuk meningkatkan kesejahteraan anak.
- Satu kali makan siang khusus yang disiapkan oleh chef yayasan sebagai bentuk apresiasi.
Ipda Ali mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Sahroni, menyatakan bahwa bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarga Azizah dan anak‑anak lain yang berada di bawah asuhan yayasan. “Mereka sangat senang, semangat mereka kembali pulih. Bantuan ini tidak hanya bersifat materi, tetapi juga memberi harapan bagi mereka yang dulu merasa teraba,” kata Ali dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Sahroni sendiri menekankan pentingnya peran aparat keamanan dalam membantu masyarakat, bukan sekadar menegakkan hukum. “Polisi harus menjadi pelindung yang turun langsung ke lapangan, membantu mereka yang membutuhkan. Contoh Ipda Ali ini adalah inspirasi bagi seluruh anggota kepolisian,” ujarnya dalam konferensi pers singkat.
Kisah Azizah menimbulkan diskusi luas di kalangan aktivis sosial mengenai perlunya kebijakan lebih kuat untuk melindungi anak‑anak yang terpaksa mengambil peran dewasa di usia dini. Beberapa LSM menyoroti pentingnya jaringan perlindungan sosial, termasuk program subsidi kesehatan, pendidikan, serta penanganan kasus kemiskinan ekstrem di daerah perkotaan.
Selain bantuan finansial, Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai juga menjalin kerja sama dengan rumah sakit setempat untuk pemeriksaan lanjutan benjolan pada kepala Hermanto. Dokter menilai bahwa operasi ringan dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan mobilitas ayah Azizah, memungkinkan keluarga tersebut untuk kembali ke kehidupan yang lebih stabil.
Sejak video viral, ribuan netizen memberikan dukungan moral melalui komentar, donasi kecil, serta penyebaran informasi kepada pihak berwenang. Beberapa tokoh publik juga menambahkan nama mereka dalam daftar donatur, memperkuat efek domino kebaikan yang dimulai dari sebuah video sederhana.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana media sosial dapat menjadi katalisator perubahan sosial, menggerakkan pemerintah, lembaga swadaya, serta masyarakat luas untuk bersama‑sama menyelesaikan persoalan yang selama ini tersembunyi di balik tirai kemiskinan.
Ke depan, yayasan berencana memperluas program rehabilitasi bagi anak‑anak yang berada dalam situasi serupa, termasuk pelatihan keterampilan hidup dan akses beasiswa. Dengan dukungan berkelanjutan dari pihak publik dan pribadi, diharapkan kisah Azizah dapat bertransformasi menjadi contoh harapan bagi banyak keluarga yang terpuruk.
Dengan bantuan Rp 50 juta dari Sahroni dan dukungan beragam elemen masyarakat, Azizah, ayahnya, serta adiknya kini memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan yang lebih layak dan terjamin.
