Viral! Anak Denise Chariesta Gigit Briella Saat Main, Apakah Ini Tanda Anak Aktif? Simak Analisis dan Risiko Lainnya

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Video singkat yang menampilkan anak perempuan Denise Chariesta menggigit temannya, Briella, saat bermain di halaman rumahnya menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah netizen langsung menilai tindakan tersebut sebagai ekspresi energi berlebih, sementara yang lain memperingatkan potensi bahaya bila perilaku serupa tidak mendapat pengawasan orangtua.

Insiden ini muncul bersamaan dengan kasus tragis yang terjadi pada seorang anak laki-laki bernama Farel, yang meninggal setelah meniru gerakan freestyle dari permainan daring Free Fire tanpa pengawasan. Kedua peristiwa menyoroti pola perilaku anak yang cenderung meniru apa yang mereka lihat di layar atau lingkungan sekitar, serta menegaskan pentingnya peran orangtua dalam membatasi dan mengarahkan aktivitas fisik anak.

Baca juga:

Para ahli perkembangan anak menjelaskan bahwa perilaku seperti menggigit atau meniru aksi ekstrem bukan sekadar tindakan impulsif, melainkan indikator bahwa anak sedang mencari cara untuk menyalurkan energi dan rasa ingin tahunya. Dalam konteks ini, istilah anak aktif menjadi relevan, karena anak yang memiliki tingkat aktivitas tinggi cenderung menunjukkan perilaku eksploratif yang intens.

  • Ekspresi fisik sebagai kebutuhan alami: Anak usia prasekolah dan sekolah dasar masih dalam fase perkembangan motorik yang cepat. Mereka belajar mengontrol otot-otot tubuh melalui permainan, termasuk gerakan yang tampak agresif.
  • Pengaruh media digital: Konten video game atau vlog yang menampilkan aksi berbahaya dapat memicu imitasi. Tanpa pembatasan, anak dapat menyalin gerakan tersebut di dunia nyata, seperti yang terjadi pada Farel.
  • Pentingnya pengawasan: Orangtua perlu hadir secara aktif, bukan hanya mengawasi secara pasif. Interaksi langsung membantu mendeteksi tanda-tanda perilaku berisiko dan memberikan arahan yang tepat.

Kasus Denise Chariesta menimbulkan pertanyaan: Apakah gigitan itu sekadar “play fight” yang umum terjadi di antara anak-anak, ataukah merupakan sinyal bahwa anak tersebut membutuhkan kanalisasi energi yang lebih terstruktur? Beberapa psikolog anak menyarankan agar orangtua menyediakan kegiatan fisik terarah, seperti kelas tari, seni bela diri, atau olahraga tim, yang dapat menyalurkan energi secara positif.

Baca juga:

Sementara itu, tragedi Farel memperingatkan bahwa tidak semua aksi yang ditiru aman. Cedera pada leher akibat gerakan freestyle yang salah dapat berakibat fatal karena struktur tulang belakang anak masih dalam tahap pertumbuhan. Hal ini menegaskan bahwa selain mengawasi konten digital, orangtua juga harus memastikan lingkungan bermain aman, dengan ruang yang bebas dari bahaya fisik dan perlindungan yang memadai.

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diambil orangtua untuk mendukung perkembangan anak aktif sekaligus meminimalkan risiko:

Baca juga:
  1. Identifikasi jenis aktivitas yang disukai anak, lalu sediakan sarana yang sesuai (misalnya, matras yoga untuk latihan keseimbangan).
  2. Batasi waktu layar dan pilih konten yang sesuai usia, serta lakukan co‑viewing untuk menjelaskan perbedaan antara dunia virtual dan realitas.
  3. Ajarkan batasan sosial sejak dini, termasuk cara mengungkapkan rasa frustrasi tanpa kekerasan fisik.
  4. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter anak untuk memantau perkembangan motorik dan postur.
  5. Berikan pujian dan penghargaan ketika anak berhasil menyalurkan energi secara positif, sehingga perilaku konstruktif menjadi kebiasaan.

Kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan fisik menjadi kunci utama. Media sosial memang mempercepat penyebaran video viral, namun tanggung jawab akhir tetap berada pada keluarga. Dengan pendekatan yang terintegrasi—menggabungkan pengawasan digital, lingkungan bermain yang aman, dan aktivitas fisik terarah—orangtua dapat membantu anak menyalurkan energi secara sehat, mengurangi insiden berbahaya, dan memupuk perkembangan sosial‑emosional yang kuat.

Penutup, fenomena viral tidak boleh mengaburkan fakta bahwa setiap tindakan anak mencerminkan kebutuhan dasar mereka. Memahami sinyal anak aktif, menyediakan outlet yang tepat, dan menjaga keamanan fisik merupakan strategi utama untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *