PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 Mei 2026 | Industri rumahan produsen tempe di wilayah Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah, mengeluhkan pergerakan harga komoditas kedelai impor yang terus mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi dilematis tersebut membuat para pelaku usaha lokal terpaksa mengambil kebijakan sepihak dengan memperkecil ukuran cetakan tempe agar harga jual eceran tetap terjangkau oleh daya beli masyarakat di pasaran.
Ironisnya, di tengah impitan beban operasional bahan baku yang melambung tinggi, para pengrajin makanan kaya protein ini juga baru saja didera musibah bencana alam berupa banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Plumbon. Bencana tersebut sempat melumpuhkan dan menghentikan total aktivitas produksi mereka selama dua hari.
Salah satu pekerja produksi tempe di Mangkang Kulon, Maliki (27), mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku utama kedelai memaksa pihak manajemen pengelola untuk memutar otak mencari strategi terbaik agar roda usaha tetap berputar tanpa harus menaikkan harga jual ke pelanggan.
"Kalau kita tetap sih kualitas terjaga nomor satu lah ya. Walaupun bahan baku semuanya naik, tetap menjaga kualitas," kata Maliki saat ditemui di lokasi sentra produksi, Rabu (20/5/2026).
Menurut Maliki, pihak produsen akhirnya lebih memilih opsi memangkas dimensi atau ukuran ketebalan tempe dibanding harus menaikkan harga jual nominal kepada konsumen yang berpotensi memicu penurunan omzet penjualan.
"Yang harga tetap normal. Barangnya dikecilkan," ujarnya.
Maliki mengaku tidak mengetahui secara pasti rincian nominal kenaikan harga kedelai per karungnya karena kebijakan pembelian logistik bahan baku dilakukan langsung oleh pemilik usaha. Namun, ia memastikan seluruh proses produksi di wilayahnya hingga saat ini masih bergantung penuh pada pasokan kedelai impor.
Perajin tempe di Banyumas juga pusing dengan kenaikan harga kedelai impor. Mereka khawatir menaikkan harga bakal membuat para pembeli kabur.
Pelemahan rupiah berdampak pada pengusaha tahu di Tasikmalaya. Kenaikan harga bahan baku memaksa Imin Muslimin merumahkan karyawan dan menahan harga jual.
Kementerian Kebudayaan mendaftarkan tempe dan Mak Yong ke UNESCO. Menteri Fadli Zon berharap keduanya diakui sebagai warisan budaya pada akhir tahun ini.
Tempe dapat menurunkan risiko Alzheimer berkat kandungan isoflavon dan minyaknya yang mengurangi ekspresi gen terkait penyakit.
Tempe merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang terkenal kelezatan dan manfaatnya untuk kesehatan.
Kira-kira cara olahan tempe seperti apa yang sehat? Tempe adalah salah satu sumber protein nabati yang baik untuk tubuh.
Tapi benarkan makan tempe justru bikin asam urat kambuh? cek faktanya di sini.
Tempe sering dianggap penyebab asam urat karena kandungan purinnya. Namun, tempe juga sumber protein nabati. Apakah aman dikonsumsi?
Tempe kerap dianggap biang kerok dari kadar asam urat yang naik. Lalu apakah tempe harus dihindari?
Camilan berbahan tempe bisa diolah menggunakan kreasi ala Jawa. Mulai dari mengolahnya dengan adonan tepung gurih atau dibumbui manis.
Tempe, makanan tradisional Indonesia, kini jadi simbol pangan berkelanjutan dan protein nabati premium di pasar global.
Apa yang membuatnya diterima oleh dunia?
Di sisi lain, perajin tempe di Banyumas pusing dengan kenaikan harga kedelai impor. Mereka khawatir menaikkan harga bakal membuat para pembeli kabur.
Margin keuntungan yang didapat semakin menipis akibat kenaikan harga bahan baku.
"Sekarang penjualan lagi pelan, harga tetap sama, ukuran juga sama enggak diperkecil. Tinggal pinter-pinternya kita jualan aja gimana supaya tetap untung," kata Bakhur Fauzi, perajin tempe lainnya.
Fauzi mencontohkan, harga jual tempe mendoan tetap sama antara Rp 1.000 hingga 3.000 per bungkus tergantung jumlah isinya. Sedangkan untuk tempe papan Rp 14.000 per kg.
Selain faktor kenaikan harga kedelai, Fauzi juga semakin terpukul akibat kenaikan harga plastik. Pasalnya, selain menggunakan kemasan daun pisang, tempe buatannya juga ada yang dikemas menggunakan plastik.
"Seperti plastik bening ukuran 4 kg sekarang harganya mencapai 34.000, naiknya sekitar Rp 10.000, sebelumnya sekitar Rp 24.000," kata Fauzi.
Oleh karena itu, Fauzi meminta pemerintah membuat kebijakan untuk melindungi usaha kecil seperti dirinya. Desanya merupakan sentra pembuatan tempe di Banyumas .
"Mudah-mudahan harga bisa turun lagi," ucap Fauzi.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri tempe di Indonesia mengalami berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga bencana alam. Namun, para perajin tempe tetap berusaha untuk mempertahankan kualitas dan harga tempe yang terjangkau bagi masyarakat.
Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan yang mendukung industri tempe di Indonesia, sehingga para perajin tempe dapat terus memproduksi tempe dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.
