PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 16 April 2026 | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan bahwa musim kemarau 2026 akan menunjukkan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan rata‑rata klimatologis 30 tahun terakhir. Peringatan khusus ini juga menyasar provinsi Jawa Barat, yang diperkirakan akan mengalami periode kemarau lebih awal dan lebih panjang.
Menurut Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, curah hujan selama musim kemarau 2026 diproyeksikan berada di bawah normal. Artinya, volume hujan yang turun akan lebih sedikit dibandingkan rata‑rata data klimatologis 1991‑2020. Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak masuk dalam kategori kemarau terparah selama tiga dekade terakhir.
Data BMKG menunjukkan bahwa sekitar 400 zona musim (setara 57,2% dari total 699 zona musim di Indonesia) diperkirakan akan mengalami periode kemarau yang lebih lama daripada kondisi rata‑rata. Informasi ini dapat dilihat pada tabel berikut:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Zona Musim Kemarau | 400 zona (57,2%) |
| Indeks ENSO (April 2026) | +0,28 |
Perbandingan dengan tahun‑tahun kemarau sebelumnya memberikan konteks yang penting. Musim kemarau tahun 1997, 2005, 2015, dan 2019 tercatat lebih kering dibandingkan prediksi 2026. Pada tahun‑tahun tersebut, kekeringan mengakibatkan dampak luas, termasuk kebakaran hutan yang meluas dan penurunan produksi pertanian secara signifikan.
Faktor utama yang memengaruhi intensitas kemarau 2026 adalah fenomena El Niño yang diperkirakan berada pada fase lemah hingga moderat. ENSO index yang tercatat +0,28 pada awal April menandakan kondisi netral, namun model iklim memperkirakan pergeseran menuju fase El Niño pada semester kedua 2026 dengan peluang 50‑80 persen. Fachri menekankan bahwa El Niño bukan penyebab utama musim kemarau, melainkan faktor yang memperparah kekeringan apabila keduanya bersamaan.
Dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke‑76 di Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Fachri juga meluruskan istilah “Kemarau Godzilla” atau “El‑Nino Godzilla” yang beredar di media sosial. BMKG tidak menggunakan sebutan tersebut dan menilai istilah itu berlebihan serta dapat menimbulkan kepanikan publik. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menambahkan bahwa meskipun El Niño dapat menurunkan intensitas curah hujan, musim kemarau tetap akan terjadi setiap tahun karena karakter tropis Indonesia.
Provinsi Jawa Barat, yang memiliki wilayah pertanian luas dan kepadatan penduduk tinggi, menjadi fokus utama peringatan ini. Kekeringan yang lebih intens dapat memicu peningkatan titik panas (hotspot) kebakaran hutan, menurunkan hasil panen padi, serta menekan ketersediaan air bersih. BMKG menyarankan pemerintah daerah dan petani untuk meningkatkan upaya mitigasi, seperti penggunaan varietas padi tahan kering, pengelolaan irigasi yang efisien, serta pemantauan intensif titik panas menggunakan satelit.
Selain langkah mitigasi, masyarakat diharapkan untuk menghemat penggunaan air, menunda aktivitas pembakaran terbuka, dan mengikuti informasi peringatan dini yang disampaikan melalui kanal resmi BMKG. Koordinasi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas terkait di Jawa Barat juga penting untuk menyiapkan strategi tanggap darurat apabila terjadi kebakaran hutan atau kekurangan air yang signifikan.
Secara keseluruhan, BMKG menegaskan bahwa meskipun musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata‑rata 30 tahun, kondisi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai kemarau terparah dalam tiga dekade terakhir. Upaya kesiapsiagaan, adaptasi pertanian, dan pengelolaan sumber daya air menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak potensial pada Jawa Barat dan wilayah Indonesia lainnya.
