PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp 17.667 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.653 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Selain itu, sentimen internal turut disokong oleh langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Dampak dari pelemahan rupiah ini akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam hal inflasi dan biaya impor. Kenaikan harga barang-barang impor akan memicu inflasi, sehingga masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang-barang yang sama.
Pelemahan rupiah juga akan mempengaruhi industri pertambangan batu bara di Kalimantan Timur (Kaltim). Kenaikan kurs dolar disebut berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan tambang, terutama pada kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang menjadi komponen utama aktivitas produksi di lapangan.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kaltim, Adnan Faridhan, mengatakan bahwa pelemahan rupiah menjadi pukulan berat bagi sektor ekstraktif di Bumi Etam. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak membuat kenaikan dolar otomatis memicu lonjakan harga BBM.
Meskipun harga batu bara dunia saat ini masih berada di level yang cukup baik, kondisi tersebut belum mampu sepenuhnya menutupi lonjakan biaya operasional yang terus membengkak. Perusahaan tambang pun disebut mulai menerapkan berbagai strategi efisiensi agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang semakin tinggi.
Kondisi paling berat, kata Adnan Faridhan, dialami kontraktor tambang yang masih terikat kontrak lama saat harga solar dan kurs dolar belum setinggi saat ini. Ia menilai persoalan kurs dolar bukan satu-satunya ancaman bagi industri tambang di Kaltim. Ia justru menyoroti persoalan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dinilai masih menjadi hambatan utama di tingkat pusat.
Menurutnya, banyak perusahaan tambang saat ini menghadapi pembatasan volume produksi akibat kebijakan RKAB yang tidak sesuai dengan pengajuan awal perusahaan. Ia mengingatkan, perlambatan industri batu bara akan berdampak langsung terhadap ekonomi daerah di Kaltim yang selama ini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.
Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami fluktuasi. Rupiah pernah menguat ke level Rp 17.629 per dolar AS, namun kemudian melemah kembali ke level Rp 17.688 per dolar AS. Kondisi ini membuat masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan memantau perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp 16.800 sampai Rp 17.500 per dolar AS. Hal ini disampaikan pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) di Gedung DPR, Jakarta.
Menurut analis, pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik dengan Iran. Meskipun ada klaim perundingan damai mengalami kemajuan, pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz yang dapat memicu inflasi global.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve, kemungkinan perlu menaikkan suku bunga. Pasar kini memperkirakan ada probabilitas hampir 50% bahwa The Fed akan mengerek suku bunga setidaknya 25 basis poin pada akhir tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami fluktuasi. Rupiah pernah menguat ke level Rp 17.629 per dolar AS, namun kemudian melemah kembali ke level Rp 17.688 per dolar AS. Kondisi ini membuat masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan memantau perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan berdampak pada masyarakat Indonesia, terutama dalam hal inflasi dan biaya impor. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap waspada dan memantau perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
