PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 24 April 2026 | Nilai tukar rupiah terus menurun, menembus level rekor terendah sekitar Rp17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026). Pergerakan ini menandai penurunan signifikan sejak awal tahun, dengan depresiasi year‑to‑date mencapai 3,54 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar, pemerintah, dan ekonom mengenai arah kebijakan moneter serta fondasi fiskal negara.
Bank Indonesia (BI) segera merespons dengan memperkuat instrumen intervensi pasar. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah tersebut didukung oleh cadangan devisa yang masih kuat, mencapai US$148,2 miliar per akhir Maret 2026, memberi ruang bagi otoritas untuk menstabilkan nilai tukar tanpa menimbulkan tekanan likuiditas.
Namun, tekanan yang menimpa rupiah bukan semata‑mata berasal dari faktor eksternal. Ekonom Bhima Yudhistira menyoroti kombinasi sentimen global yang melemahkan mata uang regional—seperti konflik geopolitik yang berkelanjutan, lonjakan inflasi energi dan pangan, serta penguatan dolar AS—bersama dengan permasalahan fiskal domestik. Defisit anggaran yang melebar, beban pembayaran bunga utang yang meningkat, serta pergantian pejabat di Kementerian Keuangan menimbulkan persepsi risiko yang lebih tinggi di kalangan investor.
- Defisit anggaran tahun 2026 diproyeksikan mencapai 5,2 % dari Produk Domestik Bruto (PDB).
- Biaya bunga utang pemerintah naik sekitar 1,8 % poin dibandingkan tahun sebelumnya.
- Perubahan struktural pada Direktorat Jenderal Keuangan mengindikasikan ketidakstabilan kebijakan fiskal.
Pengamat pasar mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa depresiasi rupiah dapat melaju lebih cepat dari proyeksi awal. Ia mencatat bahwa level Rp17.300 sudah teruji pada hari Kamis, dan memperkirakan kemungkinan tembus Rp17.400 dalam beberapa pekan mendatang jika tekanan global tidak mereda. Prediksi ini menegaskan bahwa pasar menilai risiko makroekonomi Indonesia masih tinggi.
Di sisi lain, BI tetap berkomitmen pada kebijakan suku bunga yang pro‑pasar. Meskipun tekanan inflasi global menimbulkan tekanan kenaikan suku bunga, bank sentral berupaya menjaga daya tarik aset domestik dengan menjaga tingkat suku bunga tetap kompetitif. Kebijakan ini diharapkan dapat menahan arus keluar modal serta mengurangi beban pembiayaan eksternal.
Faktor domestik lainnya yang memperburuk situasi termasuk volatilitas harga komoditas ekspor, khususnya batubara dan kelapa sawit, serta penurunan permintaan energi global yang menurunkan pendapatan devisa. Sementara itu, kebijakan fiskal yang belum sepenuhnya terukur menambah beban pada neraca negara, meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Secara keseluruhan, kombinasi tekanan eksternal dan internal menuntut kebijakan yang terkoordinasi antara otoritas moneter dan fiskal. Perbaikan manajemen fiskal, transparansi anggaran, serta konsistensi kebijakan moneter menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan pasar. Tanpa langkah-langkah tersebut, risiko pelemahan lebih lanjut tetap tinggi, mengancam stabilitas ekonomi makro Indonesia.
Dalam beberapa hari ke depan, mata uang rupiah diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan, sementara BI dan pemerintah berupaya menyeimbangkan kebijakan intervensi dan reformasi fiskal untuk menahan laju depresiasi.
