PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 Mei 2026 | Industri batu bara di Indonesia saat ini menghadapi dua isu besar: lonjakan emisi gas rumah kaca dan perubahan kebijakan ekspor. PT Bukit Asam Tbk, salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, mencatat lonjakan emisi gas rumah kaca (GRK) dari operasional tambang batu bara dalam lima tahun terakhir. Total emisi PTBA naik dua kali lipat dari 544.650 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e) pada 2021 menjadi 1,18 juta tCO2e di tahun 2025.
Lonjakan emisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan produksi batu bara dan penggunaan energi dari sumber energi tidak terbarukan berbahan fosil. Emisi pembakaran bahan bakar alat berat penambangan mencapai 1,02 juta ton CO2e, sekitar 99 persen dari total emisi langsung perusahaan tahun 2025.
Sementara itu, pemerintah Indonesia telah mengumumkan kebijakan baru untuk ekspor batu bara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara dan mengontrol harga batu bara di pasar internasional. Ekspor batu bara melalui DSI diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam industri batu bara Indonesia.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pendataan terhadap pemegang izin usaha pertambangan (IUP) yang selama ini melakukan ekspor secara langsung. Adapun tiga komoditas yang akan diwajibkan untuk diekspor adalah batu bara, kelapa sawit, dan juga fero alloy.
Perubahan kebijakan ekspor ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi praktik penyalahgunaan ekspor batu bara. Namun, kebijakan ini juga mendapat kritik dari beberapa pihak yang khawatir tentang dampaknya terhadap industri batu bara dan perekonomian Indonesia.
Kesimpulan, industri batu bara di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghadapi perubahan kebijakan ekspor. Pemerintah Indonesia harus berupaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam industri batu bara, serta mengembangkan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi dampak lingkungan.
