Strasbourg vs Monaco: Fenomena Terorisme dan Penyakit Mental

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 26 Mei 2026 | Belakangan ini, kita sering mendengar tentang kasus-kasus terorisme yang terjadi di berbagai negara, termasuk Perancis dan Jerman. Namun, yang menarik perhatian adalah cara pemerintah dan otoritas setempat menanggapi kasus-kasus tersebut. Banyak dari kasus-kasus tersebut yang dianggap sebagai tindakan orang yang mengalami gangguan mental, bukan sebagai tindakan terorisme.

Sebagai contoh, pada tahun 2016, seorang pria Muslim menyerang orang-orang di stasiun kereta api di luar Munich, Jerman, membunuh satu orang dan melukai tiga orang lainnya. Pemerintah Bavaria langsung menyangkal bahwa serangan itu memiliki motif Islamis, dan Menteri Dalam Negeri Joachim Herrmann menyatakan bahwa pelaku memiliki gangguan mental.

Baca juga:

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jerman, tetapi juga di Perancis. Pada tahun 2017, seorang pria Muslim menghancurkan dekorasi Natal di sebuah kota di Perancis, sambil berteriak “Allahu Akbar”. Pengadilan memutuskan bahwa pelaku tersebut memiliki kondisi mental yang kurang, sehingga perlu dirawat di rumah sakit jiwa.

Kasus-kasus seperti ini membuat kita bertanya-tanya, apakah benar bahwa pelaku-pelaku tersebut memiliki gangguan mental, atau apakah ada sesuatu yang lebih kompleks yang terjadi. Beberapa kasus lainnya yang terjadi di Eropa, seperti serangan di Würzburg, Ansbach, dan Berlin, juga menunjukkan pola yang sama.

Baca juga:

Strasbourg, sebuah kota di timur Perancis, juga pernah mengalami serangan terorisme pada tahun 2018. Seorang pria Muslim menembak beberapa orang di sebuah pasar Natal, membunuh tiga orang dan melukai 13 orang lainnya. Pelaku tersebut juga dinyatakan memiliki gangguan mental.

Monaco, sebuah negara kecil di pantai Mediterania, juga pernah mengalami ancaman terorisme. Pada tahun 2019, seorang pria Muslim ditangkap karena diduga merencanakan serangan terorisme di Monaco. Namun, tidak jelas apakah pelaku tersebut memiliki gangguan mental atau tidak.

Baca juga:

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan banyak kasus terorisme yang terjadi di Eropa, dan banyak dari kasus-kasus tersebut yang dianggap sebagai tindakan orang yang mengalami gangguan mental. Namun, pertanyaan yang masih belum terjawab adalah, apakah benar bahwa pelaku-pelaku tersebut memiliki gangguan mental, atau apakah ada sesuatu yang lebih kompleks yang terjadi.

Kesimpulan dari semua kasus ini adalah bahwa terorisme dan gangguan mental adalah dua masalah yang kompleks dan berbeda. Kita perlu untuk memahami bahwa terorisme bukan hanya tentang kekerasan dan kebencian, tetapi juga tentang ideologi dan motivasi. Sementara itu, gangguan mental adalah sebuah kondisi yang memerlukan perawatan dan dukungan yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *