BNPB Siapkan Ribuan Personel dan Alutsista, Menteri LH Peringatkan Kemarau Panjang Pecah Potensi Karhutla di Kalbar 2026

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 17 April 2026 | Kalimat tegas terdengar di Pontianak pada Kamis (16/4/2026) ketika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Apel Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam). Acara itu menegaskan komitmen pemerintah untuk menyiapkan ribuan personel gabungan serta sarana prasarana operasional demi mengantisipasi ancaman kebakaran yang diperkirakan akan meningkat tajam selama musim kemarau tahun ini.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa kesiapan meliputi personel TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan Kalimantan. Selain itu, relawan masyarakat yang tergabung dalam program Peduli Api turut dilibatkan dalam pemeriksaan langsung kelayakan peralatan pemadam darat, kendaraan operasional, pompa air, selang, dan perlengkapan pelindung diri. “Apel kesiapsiagaan ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan seluruh sumber daya, baik personel maupun peralatan, dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla secara terpadu,” ujar Suharyanto.

Baca juga:

Menanggapi situasi, Menko Polkam Djamari Chaniago menambahkan bahwa alutsista yang lengkap harus diiringi dengan strategi deteksi dini yang kuat. Ia menekankan pentingnya koordinasi antar‑unsur yang telah disiagakan, termasuk peran aktif masyarakat dan tokoh agama dalam melaporkan aktivitas pembakaran ilegal. “Jika masyarakat dan tokoh agama dapat berperan aktif, kesadaran kolektif akan tumbuh dan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan bencana,” tambah Djamari.

Langkah konkret yang diuraikan dalam apel meliputi:

  • Pengoperasian helikopter patroli dan water bombing untuk pemadaman cepat di area rawan.
  • Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah prioritas guna menciptakan hujan buatan bila kondisi atmosfer memungkinkan.
  • Penyaluran Dana Siap Pakai (DSP) bagi daerah yang membutuhkan pompa air, selang, dan peralatan komunikasi.
  • Penguatan jaringan deteksi dini melalui sinyal satelit, sensor suhu, dan kerja sama dengan BMKG.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kubu Raya, mengingatkan bahwa Kalimantan Barat akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan siklus tahunan sebelumnya. Ia memperkirakan puncak kemarau akan terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan curah hujan terendah dalam tiga dekade terakhir.

Baca juga:

Hanif menegaskan pentingnya data lapangan dari pemerintah daerah untuk memperkuat langkah strategis nasional, termasuk koordinasi dengan BMKG dan BNPB dalam pelaksanaan OMC. “Data itu akan kami sampaikan ke BMKG dan BNPB untuk membangun hujan buatan. Selama masih ada bibit awan, ini harus dimanfaatkan,” ujarnya. Dalam kunjungan tersebut, Menteri LH juga meninjau program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) serta Masyarakat Peduli Api (MPA) yang menjadi garda terdepan dalam pencegahan kebakaran.

Selain upaya teknis, Hanif menekankan bahwa pencegahan merupakan kunci utama dalam menurunkan emisi karbon, sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060. Ia mengingatkan bahwa tren peningkatan titik panas hingga awal April 2026 telah lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menempatkan Kalbar dan Riau sebagai wilayah paling rawan.

Langkah-langkah pencegahan yang diusulkan meliputi:

Baca juga:
  1. Peningkatan kesiapsiagaan daerah rawan dengan status siaga darurat.
  2. Penguatan program edukasi masyarakat tentang bahaya pembakaran terbuka.
  3. Penggunaan teknologi deteksi dini berbasis satelit dan sensor suhu.
  4. Kolaborasi lintas sektor antara BNPB, Kemenko Polkam, Kementerian Lingkungan Hidup, dan pemerintah daerah.

Selain fokus pada karhutla, Menteri LH juga menyinggung isu pengelolaan sampah, menegaskan bahwa mulai 2026 tidak boleh ada lagi praktik pembuangan sampah terbuka tanpa pengolahan lanjutan. Kebijakan ini diharapkan mengurangi potensi TPA terbakar yang dapat memperparah polusi udara.

Dengan ribuan personel yang telah dilatih, alutsista lengkap, serta program deteksi dan modifikasi cuaca yang siap diaktifkan, pemerintah menaruh harapan besar bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dapat ditekan seminimal mungkin. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, koordinasi antar‑instansi, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Secara keseluruhan, sinergi antara BNPB, Kemenko Polkam, dan Kementerian Lingkungan Hidup menandai pendekatan terpadu yang menggabungkan kesiapan operasional, teknologi canggih, dan edukasi publik. Jika semua pihak dapat melaksanakan rencana secara konsisten, risiko karhutla selama musim kemarau panjang 2026 di Kalbar diharapkan dapat diminimalisir, melindungi ekosistem hutan, kesehatan masyarakat, dan tujuan emisi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *