PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 08 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah, mencapai level Rp 18.162 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026). Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih kuat.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah juga berpotensi memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Pelemahan rupiah ini berdampak pada harga barang dan jasa di dalam negeri. Harga kedelai, misalnya, melonjak akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan harga kedelai ini telah memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe di Cianjur. Beberapa pelaku usaha terpaksa menghentikan operasional karena tidak mampu menanggung biaya produksi yang terus meningkat.
Selain itu, harga tiket pesawat juga semakin mahal akibat pelemahan rupiah. Sejumlah warga di Makassar mengeluhkan harga tiket penerbangan yang semakin mahal, baik untuk rute domestik maupun internasional. Salah seorang calon penumpang, Mia, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket penerbangan rute Jakarta-Makassar menjelang Idul Adha.
Pelemahan rupiah ini juga berdampak pada harga BBM. Seluruh pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah melakukan penyesuaian harga bahan bakar (BBM) jenis diesel pada 1 Juni 2026 lalu, sebagai respons atas pergerakan harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Pelemahan rupiah ini berdampak pada harga barang dan jasa, termasuk harga kedelai, tiket pesawat, dan BBM. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan stabilitas ekonomi.
